Jumat, 29 Juli 2011

Warisan Budaya Dalam Perspektif HKI

Oleh:
Brian A. Prastyo
Warisan budaya diartikan oleh Davidson sebagai ‘produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi yang berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang menjadi elemen pokok dalam jatidiri suatu kelompok atau bangsa’(Agus Dono Karmadi, 2007). Pemaknaan tersebut secara langsung membedakan warisan budaya sebagai produk yang bersifat berwujud (produk fisik) dan yang tidak berwujud (prestasi spiritual).
Warisan budaya adalah salah satu bagian dari Pusaka suatu bangsa, yaitu Pusaka Budaya. Berdasarkan  pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan di Ciloto, 13 Desember 2003, Pusaka Indonesia meliputi Pusaka Alam, Pusaka Budaya, dan Pusaka Saujana. Pusaka Alam adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka Budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya. Pusaka Budaya mencakup pusaka berwujud (tangible) dan pusaka tidak berwujud (intangible). Pusaka Saujana adalah gabungan Pusaka Alam dan Pusaka Budaya dalam kesatuan ruang dan waktu. Sejak dekade terakhir ini, Pusaka Saujana dikenal dengan pemahaman baru yaitu cultural landscape (saujana budaya), yakni menitik beratkan pada keterkaitan antara budaya dan alam dan merupakan fenomena kompleks dengan identitas yang berwujud dan tidak berwujud.
Ditinjau dari segi hukum, Pusaka Budaya dapat dilihat dari berbagai macam perspektif. Pusaka Budaya dapat dilihat sebagai benda cagar budaya menurut UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Namun demikian, peninjauan dari aspek ini kurang memadai, karena  hanya mengatur mengenai Pusaka Budaya yang bersifat fisik atau berwujud. Oleh karena itu, diperlukan suatu peninjauan yang bersumber pada UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC), karena dalam peraturan ini Pusaka Budaya dapat dilihat sebagai Folklor; yang meliputi hasil kebudayaan yang bersifat berwujud dan tidak berwujud. Dalam Penjelasan Pasal 10 Ayat (2) UUHC, folklor dimaksudkan sebagai ciptaan tradisional, baik yang dibuat oleh kelompok maupun perorangan dalam masyarakat, yang menunjukkan identitas sosial dan budayanya berdasarkan standar dan nilai-nilai yang diucapkan atau diikuti secara turun temurun, termasuk: a. cerita rakyat, puisi rakyat; b. lagu-lagu rakyat dan musik instrumen tradisional; c. tari-tarian rakyat, permainan tradisional; d. hasil seni antara lain berupa: lukisan, gambar, ukiran-ukiran, pahatan, mosaik, perhiasan, kerajinan tangan, pakaian, instrumen musik dan tenun tradisional.
Dalam Pasal 10 UUHC disebutkan bahwa Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah, sejarah, dan benda budaya nasional lainnya. Negara juga memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya. Selanjutnya ditetapkan bahwa untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan tersebut, orang yang bukan warga negara Indonesia harus terlebih dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam masalah tersebut. Pasal 10 UUHC tersebut juga menyebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh Negara akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Namun, sampai saat ini pengaturan tersebut belum ada.
Selanjutnya pada bagian penjelasan UUHC disebutkan bahwa dalam rangka melindungi folklor hasil kebudayaan rakyat lain, Pemerintah dapat mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta tindakan yang merusak atau pemanfaatan komersial tanpa seizin negara Republik Indonesia sebagai Pemegang Hak Cipta. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindari tindakan pihak asing yang dapat merusak nilai kebudayaan tersebut.
Ditinjau dari segi etimologis, maka kata folklor adalah pengindonesiaan kata inggris folklore. Folk sinonim dengan kata kolektif (collectivity). Menurut Alan Dundes, folk sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun temurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersamanya. Di samping itu, yang paling penting adalah bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri. Sedangkan makna dari istilah lore tradisi folk, artinya ialah sebagian kebudayaan tersebut diwariskan secara turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). (James Danandjaja, Folklor Indonesia, Grafiti, 1986, h. 1-2)
Beranjak dari pemaknaan tersebut, James Danandjaja mendefinisikan istilah folklor sebagai sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). James lebih lanjut mengatakan bahwa untuk membedakan folklor dari kebudayaan lainnya, maka perlu diketahui terlebih dahulu ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya yang di antaranya meliputi:
a.       penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan;
b.      folklor bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar, dan disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi);
c.       folklor ada dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Walaupun demikian perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan;
d.      folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi;
e.       folklor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola;
f.        folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif;
g.       folklor bersifat pralogis, yaitu mempunya logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri pengenal ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan;
h.       folklor menjadi milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya;
i.         folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan.[1]
Folklor penting untuk diteliti, karena folklor mengungkapkan kepada kita secara sadar atau tidak sadar, bagaimana folknya berpikir. Selain itu folklor juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya. Hal ini berbeda dengan etnografi, yang lebih merupakan hasil rekonstruksi kebudayaan suatu suku bangsa oleh peneliti di tempatnya, sehingga apa yang diabadikan, sebenarnya adalah apa yang dianggap penting untuk disoroti penelitiannya dan bukan yang dirasakan penting untuk disoroti dan disajikan pendukung kebudayaan itu sendiri.
Menurut William R. Bascom, profesor di Universitas California Berkeley, ada 4 (empat) fungsi folklor, yaitu: a. sebagai sistem proyeksi, yakni sebagai pencermin angan-angan suatu kolektif atau dengan kata lain, sebagai penyalur pendapat rakyat; b. sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; c. sebagai alat pendidikan anak; dan, d. sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipathui oleh anggota kolektifnya.
Folklor mempunyai unsur-unsur yang disebut dengan genre atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai bentuk. Menurut Jan Harold Brunvand, folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya: a. folklor lisan (verbal folklore), b. folklor sebagian lisan (partly verbal folklore), dan, c. folklor bukan lisan (non verbal folklore).
Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan. Bentuk (genre) folklor yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: a. bahasa rakyat, b. ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pameo, c. pertanyaan tradisional, seperti teka teki, d. puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair, e. cerita prosa rakyat, seperti mitos, legenda, dan dongeng, dan f. nyanyian rakyat. Folklor sebagian lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Bentuk-bentuk folklor yang tergolong dalam kelompok ini di antaranya adalah: a. kepercayaan rakyat, b. permainan rakyat, c. teater rakyat, d. tari rakyat, e. adat istiadat, f. upacara, dan, g. pesta rakyat. bukan lisan adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan.
Kelompok ini dapat dibagi menjadi dua subkelompok, yakni yang material dan yang bukan material. Bentuk folklor bukan lisan yang tergolong material antara lain: a. arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, bentuk lumbung padi, dan sebagainya), b. kerajinan tangan rakyat, c. pakaian dan perhiasan tubuh adat, d. makanan dan minuman rakyat, dan, e. obat-obatan tradisional. Sedangkan, yang termasuk bukan material antara lain: a. gerak isyarat tradisional (gesture), b. bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (misalnya kentongan tanda bahaya di Jawa atau bunyi gendang untuk mengirim berita seperti yang dilakukan di Afrika), dan c. musik rakyat.
Dalam lingkup Internasional, istilah folklor sering digunakan secara bergantian  dengan istilah Ekspresi Budaya Tradisional atau Traditional Cultural Expressions (TCE)  oleh World Intellectual Property Organization (WIPO). Ditinjau dari segi macamnya, WIPO mengkategorisasikan folklor ke dalam 4 (empat) macam ekspresi. Pertama, ekspresi verbal, misalnya cerita rakyat, pantun, dan peristilahan. Kedua, ekspresi musikal, misalnya lagu rakyat dan musik instrumentalia. Ketiga, ekspresi melalui tindakan, misalnya tarian rakyat, drama, dan penampilan artistik atau ritual-ritual. Keempat, ekspresi yang berwujud (tangible expression), misalnya produksi benda seni rakyat, khususnya, gambar, lukisan, ukiran, patung, keramik, mosaik, seni kayu, seni logam, perhiasan, seni jahit/rajut, tekstil, karpet, busana, kerajinan tangan, alat musik, dan gaya arsitektur.
WIPO juga berpandangan bahwa untuk dapat digolongkan sebagai folklor/TCE, maka suatu produk budaya harus memenuhi 6 (enam) kriteria. Pertama, produk tersebut diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain, baik melalui cara lisan maupun melalui peniruan. Kedua, produk tersebut merefleksikan identitas sosial dan budaya dari suatu masyarakat. Ketiga, produk tersebut memiliki unsur yang mencirikannya sebagai Pusaka Budaya dari suatu masyarakat. Keempat, produk tersebut dibuat oleh orang yang sudah tidak diketahui lagi identitasnya dan/atau oleh masyarakat dan/atau oleh para individu yang secara komunal telah diakui sebagai pihak yang memiliki hak, tanggungjawab, atau izin untuk melakukannya. Kelima, produk tersebut seringkali tidak dibuat dengan tujuan komersial, tetapi sebagai sarana untuk ekspresi budaya dan keagamaan. Keenam, produk tersebut secara konstan mengalami evolusi, berkembang, dan diciptakan ulang di dalam masyarakat tersebut.
            Dalam kaitannya dengan kebijakan hak kekayaan intelektual, WIPO berpendapat bahwa relevansi dan justifikasi perlindungan hak kekayaan intelektual terhadap Pusaka Budaya lahir karena Pusaka Budaya memainkan peran yang signifikan dalam pembangunan ekonomi. Penggunaan Pusaka Budaya sebagai sumber dari kreatifitas kontemporer dipandang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ekonomi dari masyarakat tradisional, misalnya melalui pendirian perusahan rakyat (community enterprises), pembukaan lapangan pekerjaan di tingkat lokal, pengembangan keahlian, pariwisata, dan pendapatan dari luar negeri sebagai hasil dari mengekspor produk masyarakat.
Peran hak kekayaan intelektual dalam hal ini adalah memberikan perlindungan hukum yang memungkinkan masyarakat untuk mengkomersialisasikan Pusaka Budayanya dan/atau mencegah pihak yang tidak berhak untuk melakukan komersialisasi tersebut (exclude free-riding competitors). Namun demikian, WIPO memandang bahwa tidak ada satu model atau satu solusi yang sesuai untuk semua bangsa (one-size-fits-all-solution) untuk pengaturan terhadap folklor/TCE, karena masing-masing negara memiliki perbedaan dalam prioritas nasional, lingkungan hukum dan budaya, dan kebutuhan masyarakat tradisionalnya.
Jika WIPO cenderung memandang folklor/TCE dari aspek perlindungan hukum dalam kaitannya dengan komersialisasi Pusaka Budaya, maka UNESCO lebih memandang isu ini dari segi upaya yang harus dilakukan agar Pusaka Budaya tetap lestari dan jaminan terhadap hak dari masyarakat yang memproduksi folklor. UNESCO mendorong pemerintah di seluruh negara anggotanya untuk melakukan sedikitnya 2 (dua) hal, yaitu Konservasi dan Preservasi. Kegiatan konservasi meliputi pendokumentasian tradisi-tradisi rakyat yang bertujuan untuk memberikan akses kepada para peneliti dan masyarakat yang bersangkutan ke data yang memungkinkan mereka untuk memahami proses bagaimana terjadinya perubahan tradisi. Dalam hal ini UNESCO juga berpendapat bahwa folklor yang hidup (living folklor) tidak selalu dapat dilindungi secara langsung.
Namun demikian, folklor yang berwujud harus secara efektif dilindungi, misalnya melalui pendirian Arsip Nasional khusus folklor, museum folklor atau bagian khusus folklor dalam suatu museum, pelatihan untuk penelitian dan pengumpulan folklor, dan memberikan sarana kontrol untuk pengamanan produk folklor dari penyalahgunaan atau kejahatan. Sedangkan, kegiatan preservasi meliputi perlindungan tradisi-tradisi rakyat untuk menjamin status dan dukungan ekonomi sampai di masa yang akan datang bagi masyarakat yang merupakan asal dari Pusaka Budaya tersebut. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah negara misalnya membuat kurikulum sekolah, menjamin hak bagi masyarakat asal dari folklor untuk mengakses folklornya, mendirikan dewan folklor nasional, menyediakan dukungan moral dan ekonomi untuk kegiatan penelitian dan pengumpulan folklor, dan penelitian ilmiah mengenai folklor.
Dalam perkembangan yang paling mutakhir, pada tanggal 25 Oktober 2008 International Conference of Euro-Asia World Heritage Cities diselenggarakan oleh OWHC (Organization of World Heritage Cities) berhasil menyepakati hal-hal seputar perlindungan terhadap Pusaka Budaya yang dituangkan dalam suatu pernyataan sikap yang disebut sebagai Deklarasi Solo (Solo Declaration). Dalam kaitannya dengan WIPO, deklarasi tersebut menyebutkan bahwa upaya dalam menjaga, melindungi, melestarikan, dan merevitalisasi budaya dan pengetahuan tradisional merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan di tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional, sehingga perlu dibentuk instrumen hukum internasional oleh WIPO untuk mendukung upaya tersebut dan mencegah penyalahgunaan, misapropriasi, dan misekploitasi dari aset budaya. Dalam kaitannya dengan UNESCO, deklarasi tersebut menyebutkan bahwa ratifikasi UNESCO Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritageadalah suatu hal yang mendesak untuk dilakukan. (http://www.lkht.net/index.php?option=com_content&view=article&id=51:warisan-budaya&catid=1:hki-telematika&Itemid=37)
1. Folklore.
Folklore merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua kata dasar folk dan lore. Folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama.
Dan kata lore  merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Dengan demikian folklore dapat diartikan sebagai bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Atau, folklore merupakan adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan turun temurun tetapi tidak dibukukan.
Folklore adalah budaya kolektif. Budaya tersebut memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan dengan kebudayaan lainnya, yaitu :
      1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dengan suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat dari satu generasi ke generasi berikutnya.
      2. Bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar dan dalam tempo yang cukup lama.
      3. Berkembang dalam versi dan varian yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena penyampaiannya  secara lisan sehingga mudah mengalami perubahan.
      4. Bersifat anonim, artinya pembuatnya sudah tidak dikenal.
      5. Mempunyai pola klise karena meniru yang telah ada (mimetis) atau melanjutkan yang sudah menjadi kebiasaan.
      6. Mempunyai kegunaan antara lain mendidik, protes sosial, kritis terhadap apa yang ada dalam masyarakat, pelipur lara, dan cerminan keinginan yang terpendam.
      7. Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Dan karena tidak logisnya ini maka orang mudah tertarik dan merasa senang.
      8. Menjadi milik bersama dari masyarakat tertentu.
      9. Bersifat polos dan lugu
Seorang ahli folklore  Amerika Serikat, Jan Harold Brunvand, membagi folklore kedalam tiga golongan besar berdasarkan tipenya, yaitu :
1.  Folklore Lisan (Facta Mental) yang meliputi :
http://akrabsenada.site40.net/xbab2_clip_image002_0007.gif
  1. Bahasa rakyat seperti logat bahasa (dialek), slang, bahasa tabu, onomatis.
  2. Ungkapan tradisional seperti peribahasa dan sindiran
  3. Pertanyaan tradisional yang dikenal sebagai teka-teki.
  4. Sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair.
  5. Cerita prosa rakyat seperti mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (Folktale).
  6. Nyanyian rakyat
    1. Folklore sebagian lisan (sosiofact), meliputi :
      1. Kepercayaan dan takhayul
      2. Permainan dan hiburan rakyat setempat
      3. Teater rakyat (lenong, reog, ketoprak)
      4. Tari rakyat
      5. Adat kebiasaan
      6. Upacara tradisional (tujuh bulanan, turun tanah)
      7. Pesta rakyat tradisional

    1. Folklore bukan lisan (artifact) meliputi :
      1. Arsitektur bangunan rumah
      2. Seni kerajinan tangan tradisional
      3. Pakaian tradisional
      4. Obat-obatan tradisional
      5. Alat-alat musik tradisional
      6. Peralatan dan senjata tradisional
      7. Makanan dan minuman tradisional
Folklore mempunyai empat fungsi, yaitu :
  1. sebagai system proyeksi yaitu sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif
  2. sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan
  3. sebagai alat pendidik anak
  4. sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
2. Mite atau Mitologi.
Adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang memiliki cerita. Tokoh mite adalah para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwanya terjadi didunia lain. Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Mitologi juga mengisahkan petualangan para dewa. Contoh mitologi Yunani yang menganggap Dewa Zeus sebagai kepala para dewa yang berkedudukan di Bukit Olimpus. Untuk menghormatinya dibuatkan bangunan Parthenon, dan juga diadakan pesta olah raga yang sampai sekarang dikenal sebagai pesta olahraga Olimpiade.
Cerita tentang hal yang berbentuk mite pada setiap daerah terkadang ada yang sama dan ada pula yang hanya dimiliki satu daerah tertentu. Contohnya, cerita tentang asal mula terjadinya beras yang dikaitkan dengan cerita Dewi Sri. Walaupun tokohnya sama, tetapi jalannya cerita terkadang berbeda-beda.
3. Legenda
Legenda merupakan cerita rakyat yang memiliki  ciri-ciri :
    1. Oleh sipemilik cerita dianggap sebagai suatu kejadian yang benar-benar pernah terjadi.
    2. Berbeda dengan mitologi, legenda bersifat keduniawian
    3. Sering dipandang sebagai sejarah kolektif
    4. Bersifat migration, dapat berpindah-pindah sehingga dikenal luas didaerah yang berbeda-beda.
    5. Tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut siklus, yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu.
Legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang ada hubungannya dengan sejarah. Tokohnya bukan lagi para dewa, melainkan manusia biasa sehingga sifat sakralnya berkurang. Karena legenda sering disertai dengan barang bukti, banyak daerah memiliki legenda yang ceritanya berbeda-beda, namun polanya sering sama. Misalnya yang berkaitan dengan cerita mas kawin yang harus disiapkan pria pelamar dalam tempo satu malam. Seperti cerita Gunung Tengger (Jawa Timur), Roro Jonggrang (Jawa Tengah), Sangkuriang (Jawa Barat), dan Istana Muara Jambi (Jambi).
Ada beberapa macam legenda, diantaranya adalah legenda alam gaib yang biasanya merupakan kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Legenda semacam ini berfungsi memperkokoh “takhayul” atau kepercayaan rakyat. Biasanya banyak menyangkut tempat yang memberi kesan angker. Misalnya “Si Manis Jembatan Ancol” atau kepercayaan terhadap adanya hantu, genderuwo, kuntilanak, dan sundel bolong.
http://akrabsenada.site40.net/xbab2_clip_image002_0008.gifLegenda keagamaan yang berkaitan dengan agama. Contohnya tentang asal mula jakun yang dimiliki setiap pria. Dikisahkan bahwa ketika Nabi Adam memakan buah Kuldi yang terlarang ketahuan oleh Tuhan sehingga ia tercekik dan buah kuldinya itu tersangkut dileher. Atau cerita tentang orang-orang saleh dan penyebar agama Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Sanga. Mereka  dianggap sebagai orang-orang suci yang memiliki kesaktian dan kelebihan  dibandingkan dengan manusia biasa pada umumnya.
Legenda setempat, berhubungan dengan tempat tertentu, baik nama maupun topografinya. Misalnya cerita tentang Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Dikisahkan tentang cinta Sangkuriang terhadap seorang putri yang bernama Dayang Sumbi, yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Karena Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkurian adalah anaknya, maka ia meminta Sangkuriang untuk membuat sebuah perahu besar dalam waktu semalam. Karena waktunya tidak terpenuhi, Sangkuriang marah dan menendang perahu yang belum selesai itu sehingga tertelungkup. Maka, jadilah Gunung Tangkuban perahu.
Contoh lain dari legenda setempat adalah asal mula nama kota Pandeglang, yang berasal dari kata Pandai Gelang (tempat orang-orang yang ahli membuat gelang). Atau nama Balaraja, yang berasal dari kata Bale Raja (tempat peristirahatan raja).
Legenda perseorangan menyangkut tokoh-tokoh tertentu yang disusun oleh pemilik cerita sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi. Pada umumnya merupakan saduran yang sudah beraneka ragam. Misalnya cerita “Si Pitung dari Betawi” seorang dari lapisan bawah yang membela rakyat  kecil terhadap kekuasaan Kolonial.
4. Dongeng
http://akrabsenada.site40.net/xbab2_clip_image002_0009.gifDongeng adalah cerita rakyat yang  dianggap tidak benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan nasehat, kebenaran, pelajaran, atau sindiran. Dongeng digolongkan dalam dongeng binatang, dongeng manusia, dan dongeng lucu.
Dongeng binatang (fabel) adalah dongeng yang tokoh utamanya adalah binatang. Tokoh binatang tersebut dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. Misalnya tokoh si Kancil, si Kera, dan lain-lain. Fabel di Jawa dan Bali disebut Tantri.
Dongeng yang tokohnya manusia disebut dongeng manusia. Pada umumnya berkisar tentang cerita suka duka seseorang. Dibeberapa tempat cerita dongeng manusia banyak terdapat persamaan. Misalnya cerita “Cinderella” dan “Bawang Merah dan Bawang Putih”, yang mengisahkan tentang seorang wanita yang dimusuhi oleh saudara dan ibunya sendiri. Atau cerita tentang anak durhaka, seperti “Malin Kundang” dari Sumatera Barat, “Si Boncel” dari Jawa Barat
Dan dongeng lucu, yaitu dongeng yang bersifat lelucon. Tokohnya biasanya adalah orang bodoh dan lugu, pandir, cerdik serta banyak akal. Misalnya cerita “Si Kabayan” dari Jawa Barat, “Pak Belalang” dari Melayu, “Pan Balangtamak” dari Bali, dan lain-lain.
5. Upacara.
Upacara adalah kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan peristiwa yang pernah terjadi dan erat kaitannya dengan mitologi, legenda atau peristiwa penting yang berkaitan dengan manusia seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Peringatannya dteruskan secara berulang-ulang sehingga terpelihara secara turun temurun. Pemeliharaan yang demikian dimaksudkan untuk melestarikan jiwa peristiwa yang penting agar terwarisi oleh generasi berikutnya.
Dalam masyarakat yang belum mengenal tulisan, cerita-cerita tentang masa lalunya atau tentang asal usul sesuatu sering dijadikan kepercayaan. Apalagi jika cerita itu menampilkan seorang tokoh yang dianggap sakral. Masyarakat akan menghormati tokoh itu bahkan menyembahnya. Tokoh tersebut bisa berupa manusia yang memiliki kesaktian ataupun dewa. Bentuk penghormatan terhadap tokoh itu dengan jalan melakukan upacara.
Upacara merupakan bentuk perilaku masyarakat yang menunjukan kesadaran terhadap masa lalunya. Masyarakat menjelaskan tentang masa lalunya melalui upacara. Melalui upacara kita dapat melacak asal-usul baik itu tempat, tokoh, sesuatu benda, kejadian alam dan lain-lain.
Misalnya ketika manusia melihat kejadian alam berupa petir yang menyambar pohon sehingga menyebabkan kebakaran, maka timbul anggapan bahwa ada sesuatu yang memiliki kekuatan. Sesuatu itu disebutlah sebagai dewa petir. Dan untuk menghormatinya dilakukanlah upacara pemujaan.
Atau seperti yang terjadi pada masyarakat yang memuja dewa matahari sebagai penguasa tertinggi. Untuk menghormatinya dibangunlah suatu monumen sebagai tempat upacara. Contohnya, Obelisk di Mesir.

                    
6. Lagu
Lagu yang dimaksud adalah nyanyian yang telah lama keberadaannya dan berkaitan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh rakyat kecil sehingga disebut nyanyian rakyat (folksong). Dalam nyanyian rakyat, kata-kata dan lagu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Akan tetapi, teks yang sama tidak selalu dinyanyikan dengan lagu yang sama. Sebaliknya, lagu yang sama sering digunakan untuk menyanyikan beberapa teks nyanyian rakyat yang berbeda. Nyanyian rakyat memiliki perbedaan dengan nyanyian lainnya, seperti lagu pop atau klasik. Hal ini dikarenakan sifatnya yang mudah berubah dan tidak kaku, baik bentuk maupun isinya.
Lagu anak-anak pada umumnya digunakan untuk mengiringi tari atau permainan. Di Jawa Tengah dan Timur kita kenal lagu Cublak-cublak Suweng, Lir-ilir, Jamuran. Di Jawa Barat kita kenal Cing Cangkeling, Tokecang. Di Maluku dikenal lagu Waktu Hujan Sore. Dan di Kalimantan Barat lagu Cik-Cik Periuk.
Peredaran nyanyian rakyat lebih luas dari pada lagu-lagu lain, dan umurnya pun lebih panjang. Hal ini dikarenakan penyebarannya melalui tradisi lisan, sehingga baik yang buta huruf atau pun yang melek huruf, kalangan atas maupun kalangan bawah menggunakannya.
Nyanyian rakyat mempunyai fungsi  sebagai pelipur lara, nyanyian jenaka, nyanyian untuk mengiringi permainan anak-anak, dan nyanyian untuk meninabobokan. Selain itu juga berfungsi sebagai pembangkit semangat, seperti nyanyian “Holopis Kuntul Baris”. Juga berfungsi sebagai pemelihara sejarah setempat, dan klan. Di Nias ada nyanyian rakyat yang disebut Hoho,  dipergunakan untuk memelihara silsilah klan besar orang Nias yang disebut Mado. Saman dan Seudati di Aceh yang bersifat religius. Dan  yang terakhir berfungsi sebagai protes sosial, mengenai ketidakadilan dalam masyarakat, negara bahkan dunia.
Nyanyian rakyat yang dapat dijadikan sebagai sumber penulisan sejarah adalah nyanyian yang bersifat mengisahkan, narative (folksong). Diantarnya Balada dan epos. Perbedaan antara Balada dan epos terletak pada tema ceritanya. Tema cerita balada berkenaan dengan kisah sentimental dan romantis, sedangkan epos mengenai cerita kepahlawanan. Namun keduanya mempunyai bentuk bahasa yang bersajak.nyanyian rakyat di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Gending yang terbagi kedalam beberapa jenis seperti Sinom, pucung, dan Asmarandana.

2.Definisi Kebudayaan Menurut para Ahli

Posted on by Masyhuri Arifin
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
  • Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
  • Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
8. Bounded et.al
Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
9. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
10. Robert H Lowie
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
11. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
Kesimpulan
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh kesimpulan mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

[sunting] Unsur-unsur

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)

[sunting] Wujud dan komponen

[sunting] Wujud

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
  • Gagasan (Wujud ideal)
    Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
  • Aktivitas (tindakan)
    Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
  • Artefak (karya)
    Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

[sunting] Komponen

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
  • Kebudayaan material
    Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial
    Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

[sunting] Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan

Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:

[sunting] Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/41/Cangkul.jpg/200px-Cangkul.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:

[sunting] Sistem mata pencaharian hidup

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:

[sunting] Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

[sunting] Bahasa

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

[sunting] Kesenian

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/aa/%C3%84gyptischer_Maler_um_1400_v._Chr._001.jpg/200px-%C3%84gyptischer_Maler_um_1400_v._Chr._001.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Karya seni dari peradaban Mesir kuno.
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

[sunting] Sistem kepercayaan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.[1]
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agama Kristen atau "5 rukun Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga mempengaruhi kesenian.

[sunting] Agama Samawi

Tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Islam, sering dikelompokkan sebagai agama Samawi[2] atau agama Abrahamik.[3] Ketiga agama tersebut memiliki sejumlah tradisi yang sama namun juga perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberikan pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia di berbagai belahan dunia.
Yahudi adalah salah satu agama, yang jika tidak disebut sebagai yang pertama, adalah agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Terdapat nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi yang juga direferensikan dalam agama Abrahamik lainnya, seperti Kristen dan Islam. Saat ini umat Yahudi berjumlah lebih dari 13 juta jiwa.[4]
Kristen (Protestan dan Katolik) adalah agama yang banyak mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1,5 s.d. 2,1 milyar pemeluk agama Kristen di seluruh dunia.[5]
Islam memiliki nilai-nilai dan norma agama yang banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara. Saat ini terdapat lebih dari 1,5 milyar pemeluk agama Islam di dunia.[6]

[sunting] Agama dan filosofi dari Timur

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Agni_god_of_fire.jpg/110px-Agni_god_of_fire.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Agni, dewa api agama Hindu
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama dari timur dan Filosofi Timur
Agama dan filosofi seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China, dan menyebar di sepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.
Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari Cina, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.

[sunting] Agama tradisional

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama tradisional
Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai "agama nenek moyang", dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.

[sunting] "American Dream"

American Dream, atau "mimpi orang Amerika" dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. [7] Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah "kota di atas bukit" (atau city upon a hill"), "cahaya untuk negara-negara" ("a light unto the nations"),[8] yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.

[sunting] Pernikahan

Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya. Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya.

[sunting] Sistem ilmu dan pengetahuan

Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
  • pengetahuan tentang alam
  • pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
  • pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
  • pengetahuan tentang ruang dan waktu

[sunting] Perubahan sosial budaya

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perubahan sosial budaya
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f5/Indig2.jpg/200px-Indig2.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing.
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial:
  1. tekanan kerja dalam masyarakat
  2. keefektifan komunikasi
  3. perubahan lingkungan alam.[9]
Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.

[sunting] Penetrasi kebudayaan

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia[rujukan?]. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat[rujukan?].

[sunting] Cara pandang terhadap kebudayaan

[sunting] Kebudayaan sebagai peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d3/Degas-_La_classe_de_danse_1874.jpg/150px-Degas-_La_classe_de_danse_1874.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas.
Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

[sunting] Kebudayaan sebagai "sudut pandang umum"

Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria - mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau kebudayaan "primitif."
Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

[sunting] Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi

Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

[sunting] Kebudayaan di antara masyarakat

Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.
  • Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sama.
  • Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.
  • Melting Pot: Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli tanpa campur tangan pemerintah.
  • Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.

[sunting] Kebudayaan menurut wilayah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kebudayaan menurut wilayah
Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama.
Afrika
Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/72/Hopi_weaver.jpg/150px-Hopi_weaver.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png
Orang Hopi yang sedang menenun dengan alat tradisional di Amerika Serikat.
Amerika
Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris, Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
Asia
Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sama lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan tersebut memiliki pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam. Dalam bidang agama, agama Budha dan Taoisme banyak mempengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut, norma dan nilai Agama Islam juga turut mempengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia Selatan dan tenggara.
Australia
Kebanyakan budaya di Australia masa kini berakar dari kebudayaan Eropa dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan Amerika tersebut kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan benua Australia, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua Australia, Aborigin.
Eropa
Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.
Timur Tengah dan Afrika Utara
Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah ini.
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.

Penyebaran Bahasa Jawa

Penduduk Jawa yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung (61,9%), Sumatra Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera Selatan (27%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.
Selain di kawasan Nusantara ataupun Malaysia. Masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela.

Dialek-Dialek Bahasa Jawa

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat :
  1. Dialek Banten
  2. Dialek Cirebon
  3. Dialek Tegal
  4. Dialek Banyumasan
  5. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)
Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :
  1. Dialek Pekalongan
  2. Dialek Kedu
  3. Dialek Bagelen
  4. Dialek Semarang
  5. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
  6. Dialek Blora
  7. Dialek Surakarta
  8. Dialek Yogyakarta
  9. Dialek Madiun
Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.
Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :
  1. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
  2. Dialek Surabaya
  3. Dialek Malang
  4. Dialek Jombang
  5. Dialek Tengger
  6. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)
Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.
Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut :
  1. Ngoko lugu
  2. Ngoko andhap
  3. Madhya
  4. Madhyantara
  5. Krama
  6. Krama Inggil
  7. Bagongan
  8. Kedhaton
Kedua dialek terakhir digunakan di kalangan keluarga Keraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan.
Bahasa Jawa Tegal adalah salah satu dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Kota Tegal dan sekitarnya.
Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara, juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa, selain Banyumas. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas, pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata.

Ciri khas

Selain pada intonasinya, dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya, yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. Secara positif -seperti dipaparkan oleh Ki Enthus Susmono dalam Kongres Bahasa Tegal I- hal ini dinilai mempengaruhi perilaku konsisten masyarakat penggunanya. Untuk lebih jelas, mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini:
  • padha, dalam dialek Tegal tetap diucapkan 'pada', seperti pengucapan bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan podho.
  • saka, (dari) dalam dialek Tegal diucapkan 'saka', tidak seperti bahasa Jawa wetanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan soko.
Tabel 1 (perbedaan pengucapan)
Dialek Tegal
Bahasa Jawa Standar
padha
podho
saka
soko
sega
sego
apa
opo
tuwa
tuwo
Dalam kasus tersebut, Enthus menilai masyarakat pengguna bahasa Jawa wetanan (Surakarta, Yogyakarta, dan sekitarnya) kurang konsisten ketika mengucapkan gatutkaca ditambahi akhiran ne. Kata itu bukan lagi diucapkan gatutkocone, melainkan katutkacane, seperti yang dituturkan oleh masyarakat Tegal. Lihat tabel berikut ini:
Tabel 2 (kesamaan ucapan pada kata dasar ditambah akhiran ne)
Kata Dasar
Dialek Tegal
Bahasa Jawa Standar
segane+ne
segane
segane, bukan segone
gatutkaca+ne
gatutkacane
gatutkacane, bukan gatutkocone
rupa+ne
rupane
rupane, bukan rupone

[sunting] Wilayah pengguna

Berikut adalah pemetaan masyarakat pengguna dialek Tegal:
Dialek Bumiayu atau Bahasa Bumiayu, adalah dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Bumiayu (Kabupaten Brebes) dan sekitarnya. Dialek ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Dialek Banyumas dan Dialek Tegal, kosakata dan cara pengucapannya juga mirip. Hal yang membedakan dialek Bumiayu dengan banyumas hanya pada intonasi dan pemilihan kata.
Ada sebagian kata yang umum dipakai oleh orang Banyumas tetapi tidak digunakan oleh orang Bumiayu. misalnya kata masuk, kata yang biasa dipakai oleh orang Banyumas adalah mlebu tetapi orang Bumiayu memakai kata manjing, kedua kata tersebut sama-sama bahasa Jawa dan memiliki arti yang sama yaitu masuk kedalam ruangan.
Jika diteliti lebih jauh, bahasa Bumiayu banyak dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Dalam tradisi budaya Jawa, bahasa Sansekerta berada di atas Krama Hinggil, bahasa Jawa yang dianggap paling halus. Kata "manjing", misalnya, sering dipakai oleh para dalang dalam cerita perwayangan. Kata "manjing" digunakan secara khusus untuk menggambarkan ruh yang masuk ke dalam diri sang Arjuna. Tapi di Bumiayu, kata tersebut digunakan untuk sembarang kalimat yang berkonotasi "masuk". "Ayame manjing umah", misalnya, berarti "ayamnya masuk rumah."
Dialek Bumiayu juga sering menambahkan akhiran ra (diucapkan rha), belih untuk mengakhiri kalimat, hal ini mungkin untuk menegaskan maksud dari kalimat tersebut. Misal:
  • Ana apa, ra? --> Ada apa ?
  • Rikané masa ora ngerti, ra ? --> Kamu masa ngga ngerti ?
  • Wis mangan, belih ? --> Sudah makan belum ?
  • Pan maring ngendi ? --> mau pergi kemana ?
Dialek ini diucapkan oleh masyarakat dari Kecamatan BumiayuBuaran-Bumiayu Paguyangan, Sirampog, dan Tonjong (Kabupaten Brebes)
Bahasa Jawa Pekalongan termasuk dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara tanah Jawa daerah Jawa Tengah terutama di Kotamadya/Kab. Pekalongan.
Meski ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal dan Semarang. Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. Dialek Pekalongan baku zaman itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan zaman sekarang.
Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang bekerja menjadi Juragan Batik, tenun dan Tekstil dan tetap menggunakan dialek yang bisa dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran mewujudkan dialek ini tadi.
Dialek Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat) ,Weleri (bagian timur) dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan). Termasuk bahasa yang "sederhana" namun "komunikatif" dan mudah dipelajari serta digunakan.
Oleh orang Jogya/Solo dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti. Oleh orang Tegal termasuk dialek yang sama derajatnya namun sulit dimengerti.
Dialek Tegal banyak menggunakan istilah : Bae, nyong, manjing, kaya kuwe,.. sampai diucapkan kental . Sementara dialek Pekalongan sama namun diucapkan tak begitu kental ("datar" dalam pengucapan). Artinya ada dalam dialek Pekalongan kosakata tadi dipergunakan dan sama artinya.
Ada lagi perbedaan lainnya, contohnya menggunakan pengucapan :"Si" ,"Ra","Po'o","Ha'ah pok", "lha", "Ye". Adanya "kosakata" ,"Kokuwe" artinya "sepertimu", "Tak nDangka'i" artinya "aku kira". "Jebhul no'o" artinya "ternyata". "lha mbuh" artinya " tidak tau", "Ora dermoho" artinya "tak sengaja". "Wegah ah" artinya "tak mau". "Nghang priye" artinya "bagaimana", "Di Bya bae ra" artinya "dihadapi saja", dan masih banyak lainnya.
Contoh kalimat : "Lha kowe pak ring ndi si?" ( kamu mau ke mana?), "Yo wis kokuwe Po'o ra". (Ya sudah begitupun tak apa), “ tak ndangka'i lanang jebulno'o wadhok” (aku kira lelaki ternyata perempuan).
Eratnya budaya orang Pekalongan dengan budaya Arab dan Tiongkok menambah kosakata dan dialek di Pekalongan, contoh : “Wallahi temenan Po'o nyong ra ngapusi, yakin” ( Demi Allah aku tak berdusta, yakin), “ Ya Allah ..ke ra mosok ra percoyo si” (Ya Allah , kok tak percaya sekali, sih ).
Dari bahasa Tionghoa: lhe guwe Bah cilik Congkle (ia anak Cong Lee). Biasanya para keturunan Tionghoa juga berbicara campur dengan bahasa Indonesia. Contoh : Lha tadi sudah tak "bilangke" tapi "ndak ngerti" yo wis ... (Tadi sudah kukatakan namun tak mengerti ya sudahlah).
“mBok "diambilke" (tolong ambilkan)
Di atas itu semua dialek yang ada di dalam kota Pekalongan.
Agak pinggir dari daerah kota, ada bedanya sedikit pada pengucapan - banyak huruf vokal/konsonan yang diucapkan agak kental, dengan tambahan "huruf h dalam pengucapan", contoh : kata "banyu" (air) diucapkan "benhyu".
"Iwan" diucapkan "i-whan".
"bali" (pulang) diucapkan "bhelhi".
"Brahim" (Ibrahim) diucapkan "Brehiim"
"Wis ho , nyong pak bhelhi ndikik .." (Sudah, ya, aku akan pulang dahulu)
Bentuk dialek di atas tadi dipergunakan di daerah Batang (di bagian timur), Pemalang/Wiradesa (di bagian barat), Bandar/Kajen (di bagian selatan). Dialek Pekalongan asli dapat terlihat penggunaannya di pasar-pasar kota dan kabupaten Pekalongan, sedangkan penggunaan sehari-hari telah bercampur dengan dialek daerah lain dan bahasa indonesia
Bahasa Jawa Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu, tersebar di timur Kebumen: Prembun, Purworejo, Magelang dan khususnya Temanggung. Dialek Kedu adalah nenek moyang dari bahasa Jawa yang biasa digunakan di Suriname.
Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas, sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:
  • "Nyong": aku, tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"
  • "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh)
  • "Njur piye": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur piye" atau "terus piye")
  • "gandhul": pepaya
  • "mbaca": membaca (bahasa Jawa standar: maca)
  • "mberuh" = (embuh ora weruh): tidak tahu
  • "mbek" = (kambek , karo): dengan contoh "mbek sopo?" artinya "dengan siapa?"
  • "krongsi" = kursi (Temanggung)
  • "petek poteh sekele koneng numpak dhugar gejedud-jedud" = (dialek Prembun) yang berarti: ayam putih kakinya kuning menumpang dokar terantuk.
Adanya pengantar: eeee, oooo, lha kok, ehalah, ha- inggih, sering digunakan dalam tuturan basa-basi masyarakat Temanggung jika lagi mengobrol. Ini menandakan jika orang Temanggung memang menyenangkan jika diajak mengobrol.
Bahasa Jawa Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara, maka tak beda dengan daerah lainnya, Yogyakarta, Solo, Boyolali dan Salatiga. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir (Pekalongan/Weleri, Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko, ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang.
  • Frasa: "Yo ora.." (Ya tidak) dalam dialek semarang menjadi "Yo orak too ". Kata ini sudah menjadi dialek sehari-hari para penduduk Semarang.
  • Contoh lain: " kuwi ugo" (itu juga) dalam dialek Semarang menjadi "kuwi barang" ("barang" diucapkan sampai sengau memakai huruf h "bharhang").
Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase, misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo", Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi", kebun binatang menjadi "Bon-bin", seratus (100) menjadi "nyatus", dan sebagainya. Namun tak semua frasa bisa disingkat, sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat", dsb.
Namun ada juga kalimat-kalimat yang disingkat, contohnya; "Kau lho pak mu Nadri" artinya "Itu lho pamanmu dari Wanadri". "Arep numpak Kijang kol" artinya akan menumpang omprengan. Zaman dulu kendaraan omprengan biasa menggunakan mobil merk "Colt", disebut "kol" maka setelah diganti "Toyota Kijang" menjadi Kijang-kol. Apa lacur kini ada yang menjadi menjadi "mercy-kol".
Adanya para warga/budaya yang heterogen dari Jawa, Tiongkok, Arab, Pakistan/India juga memiliki sifat terbuka dan ramah di Semarang tadi, juga akan menambah kosakata dan dialektik Semarang di kemudian hari. Adanya bahasa Jawa yang dipergunakan tetap mengganggu bahasa Jawa yang baku, sama dengan di daerah Solo. Artinya, jika orang Kudus, Pekalongan, Boyolali pergi ke kota Semarang akan gampang dan komunikatif berkomunikasi dengan penduduknya.
Dialek Semarang memiliki kata-kata yang khas yang sering diucapkan penuturnya dan menjadi ciri tersendiri yang membdakan dengan dialek Jawa lainnya. Orang Semarang suka mengucapkan kata-kata seperti "Piye, jal?" (=Bagaimana, coba?) dan "Yo, mesti!". Orang semarang lebih suka menggunakan kata "He'e" daripada "Yo" atau "Ya".
Orang Semarang juga lebih banyak menggunakan partikel "ik" untuk mengungkapkan kekaguman atau kekecewaan yang sebenarnya tidak dimiliki oleh bahasa Jawa. Misalnya untuk menyatakan kekaguman :"Alangkah indahnya!", orang Semarang berkata: "Apik,ik!". Contoh lain untuk menyatakan kekecewaan: "Sayang, orangnya pergi!", orang Semarang berkata: "Wonge lungo, ik"!.
Partikel "ik" kemungkinan berasal dari kata "iku" yang berarti "itu' dalam bahasa Jawa, sehingga untuk mengungkapkan kesungguhan orang Semarang mengucapkan "He'e, ik!" atau "Yo, ik".
Beberapa kosakata khas Semarang adalah: "semeh" Yang berarti "ibu" dan "sebeh" yang berarti "ayah", yang dalam dialek Jawa yang lain, "sebeh" sering dipakai dalam arti "mantra" atau "guna-guna"
Dialek Pantai Utara Timur Jawa Tengah adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang sering disebut dialek Muria karena dituturkan di wilayah sekitar kaki gunung Muria, yang meliputi wilayah Jepara, Kudus, Pati, Blora, Rembang.
Ciri khas dialek ini adalah digunakannya akhiran -em atau -nem (dengan e pepet) menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa untuk menyatakan kata ganti posesif orang kedua tunggal. Akhiran -em dipakai jika kata berakhiran huruf konsonan, sementara -nem dipakai jika kata berakhiran vokal. Misalnya kata kathok yang berarti celana menjadi kathokem, klambi yang berarti baju menjadi klambinem, dan sebagainya.
Ciri lainnya adalah sering digunakannya partikel "eh", dengan vokal e diucapkan panjang, dalam percakapan untuk menggantikan partikel bahasa Jawa "ta". Misalnya, untuk menyatakan: "Ini bukumu, kan?", orang Muria berkata: "Iki bukunem, eh?"(Bahasa Jawa standar: "Iki bukumu, ta?"). Contoh lain :"Jangan begitu, dong!", lebih banyak diucapkan "Aja ngono, eh!" daripada "Aja ngono, ta!"
Beberapa kosakata khas yang tidak dipakai dalam dialek Jawa yang lain antara lain:
  • "lamuk/jengklong" berarti "nyamuk" (Bahasa Jawa standar: nyamuk atau lemut)
  • "mbledeh/mblojet" berarti "telanjang dada" (Bahasa Jawa standar: ngliga)
  • "wong bento" berarti orang gila" (Bahasa Jawa standar: wong edan)
  • "pet" berarti "pipa atau air ledeng" (Bahasa Jawa standar: ledeng)
  • "neker" berarti "kelereng" (Bahasa Jawa standar: setin)
  • "jengen" berarti "nama" (Bahasa Jawa standar: jeneng)
  • "ceblok" berarti "jatuh" (Bahasa Jawa standar: tiba)
  • "digudak" berarti "dikejar" (Bahasa Jawa standar: dioyak)
  • "luru" berarti "cari" (Bahasa Jawa Standar: golek)
  • "mendarat" berarti "membantu" (Bahasa Jawa Standar: rewang)
  • "pet" berarti "ledeng" (Bahasa Jawa Standar: ledheng)
·         Bahasa Jawa Blora adalah salah satu dialek dalam bahasa Jawa, dituturkan di daerah Kabupaten Blora dan sekitarnya. Dialek ini sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan dialek Jawa lainnya, hanya terdapat beberapa istilah yang nyata nyata khas Blora, misalnya:
·         nDak iya "lèh"?? (kira kira artinya sama dengan "Masak iya sih").
·         Piye "lèh" iki?? Kok "ogak" "mulèh-mulèh", malah dha neng ngisor "greng"??
·         Nèng kéné hawané "anyep", wetengku wis "lesu".
·         Wis ndang di"genjong", "engko" selak masuk angin.
·         Greng : dhompolan bambu;
·         Ogak : ora = tidak;
·         mulèh : mulih : pulang;
·         anyep : adhem : dingin;
·         lesu : ngelih : lapar;
·         digenjong: diangkat/dibopong;
·         engko : mengko : nanti;
·         Beda dialèk Blora dengan dialek Jawa umumnya :
·         Akhiran "uh" jadi "oh". Contohnya:
·         abuh jadi aboh
·         butuh jadi butoh
·         embuh jadi emboh
·         ngunduh jadi ngundoh
·         suruh jadi suroh
·         sepuluh jadi sepuloh
·         utuh jadi utoh
·         Akhiran "ih" jadi "èh", contohnya:
·         batih jadi batèh
·         gurih jadi gurèh
·         kluwih jadi kluwèh
·         mulih jadi mulèh
·         sugih jadi sugèh
·         sapih jadi sapèh
·         putih jadi putèh
·        
Akhiran "mu" jadi "em", yang artinya hak milik, contohnya:
·         omahmu = omahem
·         klambimu = klambiem
·         anakmu = anakem
·         Istilah lainnya:
·         ambèk = karo
·         briga-brigi = bedhigasan
·         gendul = botol
·         jingklong = lemut = nyamuk
·         kelar = kuat (contohnya: ora kelar ngglewet = ora kelar obah)
·         lebi = tutup (lawange ndhang di lebi, selak jingklonge mlebu)
·         leket = lelet = lambat
·         lodhong = stoples
·         mèk =njupuk = mengambil
·         mèlok = melu
·         menga = ora ditutup (lawang)= terbuka
·         njuk = njaluk = minta
·         ndahneya = ndahleya = "ora bakal klakon" = masak iya sih?
·         ndara ya = mestinya
·         ndhenger = mengerti
·         ngglewet = bergerak
·         petita-petiti = briga brigi
·         penging = ora entuk = dilarang
·         plekoto = paksa
·         sitok = sicok = siji = satu
·         suker = becek
·         biting = sodo = lidi
·         jeblok = pentong = berlumpur
·         gelok = toples
·         enjoh = kodak = iso = bisa
·         gablek = nduwe = punya
·         duwik = duit
·         wedhi = lemah = pasir
·         ceblok = jatuh
·         mbelak = pinter = pandai
·         mbiluk = pinter banget= pandai sekali
·         ampo = panganan soko lempung [ marahi gegelen ]
·         suwal = sruwal = kathok = clono=celana
·         Bahasa Jawa Surakarta adalah dialek bahasa Jawa yang diucapkan di daerah Surakarta dan sekitarnya. Dialek ini menjadi standar bagi pengajaran bahasa Jawa.
·         Meskipun satu rumpun, Bahasa Jawa di tiap daerah di Jawa Tengah mempunyai ciri-ciri tersendiri yang khas mencerminkan darimana asal Bahasa Jawa tersebut.
·         Untuk istilah "dingin" di Surakarta menggunakan kata Bahasa Jawa "adem", sedangkan orang yang tinggal di Semarang menyebutnya "atis".
·         contoh:
·         "'Lha piye tho, aku meh mangkat nanging ra duwe duit."
·         "Gimana ini, saya akan berangkat tapi tidak punya uang."
·         "Mbok kowe mesake aku, dijilengi duit piro wae sak nduwekmu."
·         "Kasihani aku, dipinjami uang berapa saja yang kamu punya."
·         "Sesok tak baleke yen wis oleh kiriman soko mbakyu ku."
·         "Besok (dalam waktu yang tidak bisa ditentukan kapan) saya kembalikan kalau sudah dapat kiriman dari kakak perempuan saya.
Bahasa Jawa Yogyakarta adalah dialek yang diucapkan masyarakat Yogya. Masyarakat Yogyakarta biasanya menyingkat kata, atau menambahi kalimat agar mantap dan enak didengar.

[sunting] Contoh kalimat

Wah, piye ta iki, wis dikandhani kok ra ngrungokke. Jan!
(Wah, bagaimana sih, sudah dikasih tau kok (dia) tidak mendengarkan. Kata "Jan" tak memiliki arti khusus. Kata "Jan" digunakan supaya terdengar mantap dan enak didengar).
Piye, wis dhong apa durung??
(Bagaimana, sudah mengerti atau belum??).
Wo, jan payah tenan cah iki, ra dhongan.
(Wah, memang payah sekali anak ini, susah mengertinnya).
Piye je?
Kalimat ini sering di gunakan orang Yogya jika lagi bingung, biasanya digunakan oleh orang Yogya yang tinggal agak jauh dari kota.
Sakjane/jan-jane(sak tenane)= Jan-jane yo mbak wong kuwi ra. (Dari kata ora=tidak).
Sekolah neng UGM, ukara sing tenan dadi sak tenane yo mbak wong kuwi ora sekolah neng UGM.

[sunting] Penambahan huruf m di depan kata

Orang Jawa juga suka menambahi huruf m di depan sebuah kata. Misalnya,
  • Baciro = mBaciro (nama kampung).
  • Besuk = mBesuk.
  • Bantul = mBantul.
  • Bandung = mBandung.
  • Bogor = mBogor.
  • Bogem = mBogem (tempat supitan anak-anak).

[sunting] Tingkatan bahasa

Bahasa Jogja juga punya 3 tingkatan bahasa, yaitu:
  • Bahasa sangat halus (Krama Alus)
  • Bahasa halus (Krama Lugu/Ngoko Alus)
  • Bahasa biasa (Ngoko Lugu)
Misalnya,
  • Dalam Bahasa Indonesia = Memberi
  • Dalam Bahasa Jawa Krama Inggil = Nyaosi
  • Dalam Bahasa Jawa Krama = Maringi
  • Dalam Bahasa Jawa Ngoko = Menehi
  • Dan sebagainya.
ahasa Jawa Madiun dipergunakan di daerah Jawa Timur Mataraman (perbatasan Jawa Tengah bagian tengah dan selatan). Daerah kadipaten Mediyun atau yang sekarang eks Karesidenan Madiun yakni kota Madiun, kabupaten Madiun, kabupaten Ngawi, kabupaten Magetan, kabupaten Ponorogo, dan kabupaten Pacitan semuanya dalam wilayah propinsi Jawa Timur, namun sebelum proklamasi RI, termasuk kesultanan Mataram (Jogja/Solo), maka dialek Madiun itu lebih dekat dengan dialek Jawa Tengah ketimbang dialek Jawa Timur Surabaya. Dibanding dialek Jawa Tengah, ciri utamanya adalah dalam intonasi. Orang Madiun sering memberi tekanan pada suku kata pertama, contohnya "bocah kok kurang ajar banget" diucapkan "byuh, byuh... buocah kok kuorang ajar men".
Namun ada kata-kata yang menjadi ciri dialek Madiun:
  • gong, dong (Ponorogo, Pacitan) = belum
  • mboyak = mbok bèn = luwèh (Jogja), terserah aku/kamu, (Betawi: biarin)
  • éram, jègèg = hebat
  • jingklong = nyamuk
  • édhuk = éthém = enak, keenakan
  • engkè = maeng = tadi
  • men = nemen = sekali
  • byuh... byuh = jika kaget ataupun heran
Bahasa Bagongan adalah sebuah cabang bahasa Jawa yang hanya lazim dipakai di lingkungan keraton Mataram. Bahasa ini mulai dikembangkan pada zaman pemerintahan Sultan Agung dengan tujuan untuk menghilangkan kesenjangan di antara para pejabat istana dan keluarga raja.
Pada saat ini pemakaian bahasa Bagongan sudah semakin berkurang, bahkan nyaris punah. Pemakainya pun hanya dari golongan tua saja yang mengenal adanya jenis bahasa tersebut.

[sunting] Penggunaan

Bahasa Bagongan digunakan oleh para pejabat istana, atau yang biasa disebut sentana dalem untuk bercakap-cakap satu sama lain. Tidak seperti bahasa Jawa pada umumnya, bahasa ini relatif kurang mementingkan hierarki sehingga terkesan lebih fleksibel.
Misalnya, apabila dalam bahasa Jawa biasa, seseorang yang lebih muda akan menyebut dirinya dengan kata ganti kula, sedangkan yang lebih tua menyebut dirinya dengan kata ganti aku. Namun dalam bahasa Bagongan, baik yang muda ataupun yang tua jika bercakap-cakap sama-sama menyebut dirinya dengan kata ganti manira.
Tujuan Sultan Agung menetapkan penggunaan bahasa Bagongan ialah untuk menciptakan persatuan di antara pejabat istana dengan menghilangkan kesenjangan yang timbul jika mereka menggunakan bahasa Jawa biasa. Namun bahasa Bagongan ini hanya berlaku apabila seorang sentana berbicara kepada sesama sentana. Apabila berbicara kepada raja, maka ia harus menggunakan bahasa Jawa umum, tentu saja dari jenis yang paling halus, yaitu bahasa krama inggil.

[sunting] Ciri Bahasa

Bahasa Bagongan hanya terdiri atas sebelas kata utama. Sedangkan selain kata-kata tersebut digunakan kata-kata dalam bahasa Jawa umum, terutama dari jenis krama inggil. Sebelas kata tersebut antara lain:
·         saya: manira
·         anda: pakenira
·         ya: enggeh
·         tidak: mboya
·         bukan: seyos
·         saja: mbesaos
·         ini: puniki
·         itu: puniku
·         apa: punapi
·         ada: wenten
·         mari: nedha
Contoh kalimat:
  • bahasa Indonesia: Saya pilih itu saja.
  • bahasa Jawa ngoko: Aku pilih kuwi wae.
  • bahasa Jawa krama: Kula pilih punika kemawon.
  • bahasa Jawa bagongan: Manira pilih puniku mbesaos.
Macapat adalah lagu/tembang tradisional klasik Jawa. Macapat juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Madura, dan Sunda. Apabila diperhatikan dari asal-usul bahasanya(kerata basa), macapat berarti maca papat-papat(membaca empat-empat).Cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga di Jawa. Tetapi perkiraan tersebut masih belum pasti, karena tidak ada bukti tertulis yang bisa memastikan. Macapat banyak digunakan di dalam beberapa Sastra Jawa Tengahan lan Sastra Jawa Baru. Kalau dibandingkan dengan Kakawin, aturan-aturan dalam macapat lebih mudah. Kitab-kitab zaman Mataram Baru, seperti Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, dan yang lainnya disusun dengan lagu ini. Aturan-aturan tersebut ada pada:
  • Guru gatra : jumlah gatra/baris tiap bait.
  • Guru wilangan : jumlah suku kata/wanda tiap gatra/baris.
  • Guru lagu : jatuhan suara suku kata tiap gatra/baris.
Pada dasarnya, macapat ada beberapa macam, umumnya dibagi dalam tiga jenis yaitu:

[sunting] Sekar Macapat atau Sekar Alit

Macapat ini juga disebut tembang macapat asli, yang banyak dipakai dalam berbagai jenis keperluan. Urutan tembang Jawa tersebut sama dengan perjalanan hidup manusia dari mulai bayi sampai meninggal.Urutan tersebut seperti tersebut di bawah ini:
Menggambarkan bayi masih dalam kandungan ibunya, yang belum diketahui jenis kelaminnya, kumambang berarti mengambang dalam kandungan ibu.
Berarti sudah dilahirkan dan jelas laki-laki atau perempuan.
Berarti masa muda, yang paling penting untuk pemuda adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya.
Dari kata kanthi atau tuntun yang berarti dituntun supaya bisa menjalani kehidupan di dunia.
Berarti cinta, cinta laki-laki kepada perempuan atau sebaliknya yang merupakan takdir Ilahi.
Dari kata jumbuh / bersatu yang berarti apabila sudah bersatu dalam cinta, perempuan dan laki-laki tersebut bisa menjalani hidup bersama.
Menggambarkan kehidupan manusia dalam kebahagiaan ketika berhasil meraih cita-cita.Menemukan jodoh, melahirkan anak, kehidupan yang sejahtera, dsb.
Dari kata darma / sedekah. manusia jika sudah merasa hidup cukup, dalam dirinya tumbuh rasa kasih sayang kepada sesamanya yang sedang kesusahan, sehingga akan tumbuh keinginan untuk berbagi.Hal tersebut didukung juga dari moralitas agama dan watak sosial manusia.
dari kata mungkur yang berarti menyingkirkan hawa nafsu angkara murka.Yang menjadi prioritas hidup adalah keinginan unutk berbagi dan peduli dengan sesama.
Dari kata megat roh/pegat rohe atau terpisahnya nyawa, ketika takdir kematian datang.
Ketika tinggal jasad tersisa, dibungkus dengan kain mori putih atau dipocong sebelum dikuburkan.

[sunting] Sekar Madya atau Sekar Tengahan

Macapat jenis ini, seperti misalnya tembang Kidung yang sering dipakai pada zaman Majapahit.

[sunting] Sekar Ageng

Sekar macapat Ageng (gedhe) hanya ada satu, yaitu Girisa. Kalau ditinjau dari tingkat kesulitannya, sekar macapat ageng seperti tembang Kakawin zaman kuno.
Kebudayaan dapat hidup dan berkembang seiring dengan irama kehidupan masyarakat pendukungnya. Kebudayaan merupakan warisan leluhur yang harus selalu dibina, dipelihara dan dikembangkan. Kesenian merupakan salah satu hasil dari kebudayaan dalam perkembangannya akan dapat mewujudkan ciri dan karateristik suatu bangsa. Salah satu wujud dari sebuah aktivitas budaya, kesenian terbentuk dari ide-ide dan gagasan. Sedangkan kesenian dapat dibagi dalam beberapa cabang antara lain, Seni Tari, Seni Rupa, Seni Drama, Seni Musik dan cabang seni lainnya. Seni Pertunjukan Langen Mandra Wanara yang tumbuh dan berkembang di Di sekitar DI Yogyakarta adalah bagian dari cabang-cabang seni tersebut.
     Langen Mandra Wanara merupakan sebuah seni tradisi yang hidup dan berkembang atas partisipasi masyarakat sebagai pemangku keseniannya. Langen Mandra Wanara  berasal dari bahasa Jawa yaitu Langen yang berarti bersenang-senang, Mandra yang berarti banyak dan Wanara yang berarti Kera. Jadi Langen Mandra Wanara dapat diartikan sebuah seni pertunjukan yang banyak menggunakan peran kera.
    Di tinjau dari sejarahnya Langen Mandra Wanara merupakan sebuah produk kesenian hasil dari pengembangan kesenian Srandul dan Langendriya. Kedua jenis kesenian tersebut mempunyai pola budaya yang berlainan sehingga keduanya memiliki ciri dan sifat yang berbeda. Langen Mandra Wanara mempunyai fungsi sebagai sarana hiburan dan media penerangan bagi masyarakat. Bentuk awal Langen Mandra Wanara berasal dari pengembangan kesenian Srandul dan Langendriya, kesenian Langen Mandra Wanara masih mencerminkan ciri-ciri dari kedua kesenian tersebut. Srandul sebagai asal mula kesenian ini dan Langendriya sebagai pola dan konsep dasar penggarapannya.
Menurut W. Sastrowiyono, Langen Mandra Wanara diciptakan oleh almarhum K.P.H. Yudanegara III yang kemudian menjadi K.P.H.A. Danureja VII, Patih di Kasultanan Yogyakarta pada sekitar tahun 1890. Awal kemunculan Langen Mandra Wanara pada saat itu mendapat sambutan yang cukup baik di masyarakat.
Keistimewaan dari Langen Mandra Wanara adalah  gerak  tarinya  dilakukan dengan berjongkok. Hal ini sengaja diciptakan untuk membedakan dengan bentuk tarian yang ada pada kesenian Wayang Orang. Langen Mandra Wanara dalam pementasannya mengambil cerita dari serat Ramayana. Unsur tari dalam seni pertunjukan ini sangat dominan meskipun dialog juga digunakan.
Musik iringan untuk pertunjukan Langen Mandra Wanara menggunakan seperangkat gamelan dengan Sinden dan seorang Dalang. Gerak tari dalam Seni Pertunjukan Langen Mandra Wanara sangat dominan sehingga keberadaan   gamelan mutlak diperlukan. Selain untuk pembentukan suasana pertunjukan, gamelan juga berfungsi memberi aksen/tekanan dalam mengiringi gerakan yang dilakukan oleh para penari. Dalang berperan sebagai pemimpin dan pengatur jalannya pertunjukan. Sedangkan urutan penyajian Langen Mandra Wanara dari awal hingga berakhirnya pertunjukan terangkum dalam Serat Kandha. Serat Kandha menjadi pegangan seorang dalang dalam memimpin jalannya pertunjukan. Isi dari Serat Kandha tersebut adalah
1. Pembagian lakon dalam jejeran.
2. Keluar masuknya pemain dalam arena pertunjukan.
3. Gendhing yang digunakan.
4. Dialog yang digunakan.
Iringan pertunjukan Langen Mandra Wanara juga menggunakan jenis lagu rambangan. Menurut Wasisto Surjodiningrat, rambangan adalah tembang macapat yang diiringi oleh gamelan. Rambangan ini mengambil dari jenis lagu/tembang macapat yang diolah dan dimungkinkan untuk menjadi jenis lagu rambangan. Tembang macapat terikat oleh guru lagu dan guru wilangan. Setiap jenis tembang macapat mempunyai ciri dan watak yang berbeda-beda.  Sehingga dalam memilih lagu untuk dialog harus menyesuaikan dengan watak dan karakter dari masing-masing tembang macapat tersebut. Untuk melagukan macapat, rambangan  disajikan dengan irama bebas namun masih dalam lingkungan karawitan.
Pamurba irama pada karawitan adalah Kendang  dan diperjelas oleh  iringan kethuk, kenong, kempul dan gong ageng  pada singgetan-singgetan tertentu  ditandai dengan aba-aba dari kendang. Tabuhan kenong dan kempul berfungsi sebagai pengantar dan  penuntun nada. Setiap gatra ageng   diperjelas dengan singgetan gong suwukan dan setiap akhir pada ditandai dengan suara gong gedhe. Awalnya iringan Langen Mandra Wanara menggunakan laras slendro, namun dalam perkembangannya juga menggunakan laras pelog baik laras pelog patet nem, lima maupun laras pelog patet barang.   

a.  Folklor
Folklor adalah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang tersebar atau diwariskan secara turun temurun.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan.

Ciri-ciri folklor:
v     Folkor diciptakan, disebarkan, dan diwariskan secara lisan (dari mulut ke mulut) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
v     Folklor bersifat tradisional, tersebar di wilayah (daerah tertentu) dalam bentuk relatif tetap, disebarkan diantara kelompok tertentu dalam waktu yang cukup lama(paling sedikit 2 generasi).
v     Folklor menjadi milik bersama dari kelompok tertentu, karena pencipta pertamanya sudah tidak diketahui sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya (tidak diketahui penciptanya)
v     Folklor mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama. Diantaranya sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendam.
v     Folklor terdiri atas banyak versi
v     Mengandung pesan moral
v     Mempunyai bentuk/berpola
v     Bersifat pralogis
v     Lugu, polos

Menurut Jan Harold Brunvard, ahli folklor dari Amerika Serikat, folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu:
1) Folklor Lisan
Merupakan folkor yang bentuknya murni lisan, yaitu diciptakan, disebarluaskan, dan diwariskan secara lisan.
Folkor jenis ini terlihat pada:
(a) Bahasa rakyat adalah bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam hidup sehari-hari. Seperti: logat,dialek, kosa kata bahasanya, julukan.
(b) Ungkapan tradisional adalah kelimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang. Peribahasa biasanya mengandung kebenaran dan kebijaksanaan. Seperti, peribahasa, pepatah.
(c) Pertanyaan tradisional (teka-teki)
Menurut Alan Dundes, teka-teki adalah ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan, dan jawabannya harus diterka.
(d) Puisi rakyat adalah kesusastraan rakyat yang sudah memiliki bentuk tertentu. Fungsinya sebagai alat kendali sosial, untuk hiburan, untuk memulai suatu permainan, mengganggu orang lain. Seperti: pantun, syair, sajak.
(e) Cerita prosa rakyat, merupakan suatu cerita yang disampaikan secara turun temurun (dari mulut ke mulut) di dalam masyarakat.Seperti: mite, legenda, dongeng.
(f) Nyanyian rakyat, adalah sebuah tradisi lisan dari suatu masyarakat yang diungkapkan melalui nyanyian atau tembang-tembang tradisional. Berfungsi rekreatif, yaitu mengusir kebosanan hidup sehari-hari maupun untuk menghindari dari kesukaran hidup sehingga dapat manjadi semacam pelipur lara. Seperti: lagu-lagu dari berbagai daerah.

2) Folklor Sebagian Lisan
Merupakan folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan bukan lisan. Folklor ini dikenal juga sebagai fakta sosial. Yang termasuk dalam folklor sebagian lisan, adalah:
(a) Kepercayaan rakyat (takhyul), kepercayaan ini sering dianggap tidak berdasarkan logika karena tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, menyangkut kepercayaan dan praktek (kebiasaan). Diwariskan melalui media tutur kata.
(b) Permainan rakyat, disebarkan melalui tradisi lisan dan banyak disebarkan tanpa bantuan orang dewasa. Contoh: congkak, teplak, galasin, bekel, main tali,dsb.
(c) Teater rakyat
(d) Tari Rakyat
(e) Pesta Rakyat
(f) Upacara Adat yang berkembang di masyarakat didasarkan oleh adanya keyakinan agama ataupun kepercayaan masyarakat setempat. Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada mereka.

3) Folklor Bukan Lisan
Merupakan folklor yang bentuknya bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Biasanya meninggalkan bentuk materiil(artefak). Yang termasuk dalam folklor bukan lisan:
(a)     Arsitektur rakyat (prasasti, bangunan-banguna suci)
Arsitektur merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
(b)     Kerajinan tangan rakyat
Awalnya dibuat hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang dan untuk kebutuhan rumah tangga.
(c)      Pakaian/perhiasan tradisional yang khas dari masing-masing daerah
(d)     Obat-obatan tradisional (kunyit dan jahe sebagai obat masuk angin)
(e)      Masakan dan minuman tradisional

b.  Mitologi
Mite (myth)
berarti cerita yang memiliki latar belakang sejarah, dipercayai oleh masyarakat sebagai cerita yang benar-benar terjadi, dianggap suci, banyak mengandung hal-hal gaib, dan umumnya ditokohi oleh dewa atau setengah dewa.
Mitologi
adalah ilmu tentang kesusastraan yang menagndung konsep tentang dongeng suci, kehidupan para dewa, dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan.

Peristiwanya terjadi di dunia lain, atau di dunia yang bukan dunia seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau yang lama.

Cerita yang dimilki setiap suku bangsa di indonesia biasanya terkait dengan sejarah kehidupan masyarakat di suatu daerah, seperti awal mula masyarakat menempati suatu daerah. Kisah tentang terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, dan gejala alam serta petualangan para dewa, kisah percintaan, hubungan kekerabatan, kisah perang mereka, dunia dewata, makanan pokok.

Cerita-cerita yang terkandung dalam mite bukanlah sejarah tetapi didalamnya terdapat unsur-unsur sejarahnya.
Contoh mite:
Dewi Sri dari Jawa Tengah dan Bali
Nyai Pohaci dari Jawa Barat
Nyai Roro Kidul Laut Selatan dari Yogyakarta
Mado-Mado (lowalangi) dari Nias
Wahadi dari Timor.

Mitos di Indonesia dibagi menjadi 2 macam berdasarkan tempat asalnya, yakni:
1)     Asli Indonesia
2)     Berasal dari luar negeri terutama dari India, Arab, dan kawasan Laut Tengah.
Mitos dari luar negeri umumnya sudah mengalami pengolahan lebih lanjut sehingga tidak terasa lagi keasingannya, karena telah mengalami proses adaptasi. 
Sebagai contoh:
Orang jawa telah mengadopsi dewa-dewa serta pahlawan-pahlawan Hindu sebagai dewa dan pahlawan Jawa. Orang Jawa percaya bahwa mitos yang berasal dari epos Ramayana dan Mahabarata terjadi di pulau Jawa dan bukan di India.

c.  Legenda
Legenda adalah prosa rakyat yang dianggap oleh yang punya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi.
·        Legenda bersifat sekuler (keduniawian) terjadi pada masa yang belum begitu lampau dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang.
·        Legenda ditokohi oleh manusia, meskipun ada kalanya mempunyai sifat luar biasa, dan seringkali dibantu mahkluk-mahkluk gaib.
·        Legenda sering dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history). Meskipun dianggap sebagai sejarah tetapi kisahnya tidak tertulis maka legenda dapat mengalami distorsi sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya.
·        Untuk menjadikan legenda sebagai sumber sejarah maka harus menghilangkan bagian-bagian yang menagndung sifat-sifat folklor, seperti bersifat pralogis (tidak termasuk dalam logika) dan rumus-rumus tradisi.
·        Legenda diwariskan secara turun temurun, biasanya berisi petuah atau petunjuk mengenai yang benar dan yang salah. Dalam legenda dimunculkan pula berbagai sifat dan karakter manusia dalam menjalani kehidupannya yaitu sifat yang baik dan yang buruk, sifat yang benar dan yang salah untuk selanjutnya dijadikan pedoman bagi generasi selanjutnya.
Contoh Legenda:
Legenda Sunan Bonang, Tangkuban Perahu (Sangkuriang) dari Jawa Barat, Putmaraga dari Banjarmasin (Kalimantan), Pinisi (Sawerigading) dari Sulawesi, Hang Tuah dari Aceh.

Jan Harold Brunvard menggolongkan legenda menjadi 4 kelompok, yaitu:
(1)      Legenda keagamaan (religious legend)
Termasuk dalam legenda ini adalah legenda orang-orang suci atau saleh (hagiografi). Hagiografi meskipun sudah tertulis tetapi masih merupakan folklor sebab versi asalnya masih tetap hidup diantara rakyat sebagai tradisi lisan.
Contoh: Legenda Wali Songo.



(2)     Legenda Alam Gaib
Legenda ini berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang, berfungsi untuk meneguhkan kebenaran”takhyul” atau kepercayaan rakyat.
Contoh: kepercayaan terhadap adanya hantu, gendoruwo, sundelbolong, dan tempat-tempat gaib.

(3)     Legenda Setempat
Legenda yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk topografi, yaitu bentuk permukaan suatu daerah.
Contoh: terbentuknya Danau Toba.

(4)     Legenda Perseorangan
Cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh yang empunya cerita benar-benar pernah terjadi.
Conto: Legenda Panji yang berasal dari tradisi lisan yang sering berintegrasi dengan dongeng “Ande-ande Lumut” dan dongeng ‘Kethek Ogleng”

d. Dongeng (folktale)
Dongeng merupakan prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita. Dongeng tidak terikat oleh waktu maupun cerita.
Dongeng adalah”cerita pendek” kolektif kesusastraan lisan.
Diceritakan untuk hiburan, meskipun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran.
Tokohnya, biasanya binatang (fables), seperti Si Kancil, maupun manusia seperti Bawang Merah dan Bawang Putih.
Terkadang ada pergeseran sebuah legenda menjadi dongeng.
Contoh :
“Terjadinya Gunung Tangkuban Perahu” ke dongeng “Sangkuriang” dapat terjadi karena kini cerita Sangkuriang oleh sebagian penduduk Sunda sudah dianggap fiktif.

e.  Lagu-lagu Daerah
Lagu adalah syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik.
Lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah.
Ciri-cirinya:
Ø      Terdiri atas kata-kata dan lagu yang keduanya tidak dapat dipisahkan.
Ø      Sifatnya mudah berubah-ubah (dapat diolah menjadi nyanyian pop)
Ø      Beredar secara lisan diantara kolektif tertentu dan memiliki banyak varian, berbentuk tradisional.
Ø      Bentuknya sangat beraneka ragam, yakni dari yang paling sederhana sampai yang cukup rumit.
Contoh:
Bungong Jeumpa, Ampar-ampar Pisang, Yamko Rambe Yamko, Butet, Kampung nan Jauh di Mato.

Fungsi nyanyian rakyat:
1.      Kreatif, yaitu untuk menghilangkan kebosanan hidup sehari-hari untuk menghibur diri dan untuk mengiringi permainan anak-anak.
2.      Sebagai pembangkit semangat, yaitu nyanyian untuk bekerja.
Holopis Kuntul Baris (Jawa Timur), rambate Rata(Sulawesi Selatan)
3.      Sebagai protes sosial, yaitu proses mengenai ketidakadilan dalam masyarakat atau negara bahkan dunia.
4.      Untuk memelihara sejarah setempat dan klan.
“hoho”(Nias),untuk memelihara silsilah klan besar orang Nias yang disebut Mado.

Menurut Brunvand, nyanyian rakyat dapat digolongkan dalam 3 jenis:
a.      Nyanyian rakyat yang berfungsi
b.      Nyanyian rakyat yang bersifat liris
Nyanyian bersifat liris biasanya sebagai pencetusan rasa haru pengarangnya (anonim). Nyanyian, dibedakan menjadi dua yaitu:
- nyanyian rakyat liris yang sesungguhnya, contoh: Lagu Cinte Manis
- Nyanyian rakyat liris yang bukan sesungguhnya, contoh: Pok Ame-ame dan Oh Mama Saya Mau Kawin dari Betawi.
c.  Nyanyian rakyat yang bersifat kisah
Contohnya:
Balada (sentimental)     Pantun Sunda
romantik(tentang cinta)
epos (kepahlawanan)      Ramayana

f. Upacara
Upacara merupakan rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu (adat istiadat, agama, dan kepercayaan)
Contoh:
Upacara penguburan, mendirikan rumah, membuat perahu, upacara memulai perburuan, dan upacara perkabungan, upacara pengukuhan kepala suku, upacara sebelum berperang.

Fungsi Upacara:
1.      Upacara adat biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada kekuatan-kekuatan yang dianggap memberikan perlindungan dan kesejahteraan pada mereka.
Upacara tersebut juga dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari kemarahan kekuatan-kekuatan gaib yang seringkali diwujudkan dalam berbagai malapetaka dan bencana alam. Biasanya terkait dengan legenda yang berkembang di masyarakat tentang asal usul mereka.
2.      Sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka seperti tertuang dalam cerita rakyat.
Contoh:
Upacara “Kasodo” oleh masyarakat Tengger di Sekitar Gunung Bromo.
Upacara “Larung Samudra” yaitu melarung makanan ke tengah laut.
Upacara “ Seren Taun” di daerah Kuningan
Upacara “ Mapang Sri” di daerah Parahyangan

Macam-macam upacara:
·        Upacara Membuat Rumah
Rumah dipandang memilki nilai magis tersendiri yang diyakini memiliki kekuatan dan melindungi kehidupan manusia. Sehingga, ketika pertama kali mendirikan rumah mereka menggunakan berbagai macam sesaji yang dipercayai dapat mendukung keselamatan keluarga atau orang yang mendirikan rumah, seperti di daerah Toraja, Bali, dan Madura.
·        Upacara kematian/ Penguburan
Muncul ketika adanya kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal akan pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lingkungan dimana ia pernah tinggal. Contoh: tradisi penguburan di suku Toraja.
·        Upacara Perkawinan
Pada suku Minangkabau, menganut garis keturunan matrilineal, sehingga upacara perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga istri. Berbeda dengan suku Batak dan Bali yang menganut garis keturunan patrilineal dimana upacara perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga laki-laki.



ulisan ini merupakan Bab II dari Penelitian tentang Pengembangan Kota Lama Banyumas yang saya lakukan dengan dibiayai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Kearsipan Daerah (Balitbangtelarda) Kabupaten Banyumas pada tahun 2007. Penelitian diarahkan pada usaha preservasi dan konservasi ragam bangunan kuno bersejarah di wilayah Kota Lama Banyumas yang diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan untuk pencitraan Banyumas sebagai kawasan budaya. Usaha pencitraan ini sangat penting dalam rangka pengembangan ragam kebudayaan lokal Banyumas, penciptaan rasa kebanggaan dan sense of belonging dalam diri setiap warga masyarakat Banyumas terhadap ragam budaya milikinya. Di sisi lain, keberhasilan pencitraan ini diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pengembangan bidang kepariwisataan.

Riwayat Kadipaten Banyumas

Salah satu kesulitan mencolok dalam pelaksanaan penelitian ini adalah keberadaan artefak sejarah yang ada di lingkungan obyek material penelitian tidak diikuti teks-teks atau catatan-catatan yang ditulis bersamaan waktu atau mengikuti perjalanan sejarah artefak sejarah tersebut. Beberapa tulisan yang berhasil dikumpulkan umumnya adalah teks-teks sejarah yang ditulis berdasarkan gotek atau ujaring kandha. Oleh karena itu uraian tentang hal-hal yang bersifat diakronis dari keberadaan Kadipaten Banyumas kiranya lebih netral dengan menggunakan istilah ‘riwayat’.

Dari beberapa teks yang terkumpul diperoleh keterangan bahwa keberadaan Kadipaten Banyumas tidak lepas dari pengangkatan Joko Kahiman menjadi Adipati Wirasaba oleh Sultan Pajang, menggantikan Adipati Warga Utama I yang tewas pada peristiwa Sabtu Pahing di Bener. Joko Kahiman adalah anak Ki Mranggi dari Kejawar yang telah menjadi putra menantu Adipati Warga Utama I di Wirasaba. Pasca terjadinya tragedi Sabtu Pahing, putra-putra Wirasaba tidak ada yang bersedia memenuhi panggilang Sultan Jajang karena khawatir akan menemui nasib tragis seperi yang telah dialami ayahandanya. Kesediaan Joko Kahiman berangkat ke Pajang ternyata bukan untuk menerima hukuman, tetapi justru menerima anugrah diangkat menjadi Adipati Wirasaba bergelar Adipati Warga Utama II.

Joko Kahiman tidak kemaruk kekuasaan. Dia kemudian membagi Wirasaba menjadi empat kadipaten. Tiga bagian untuk ketiga kakak iparnya dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Kakak ipar tertua, Ngabehi Warga Wijaya mendapat bagian di wilayah Wirasaba. Kakak ipar kedua, Ngabehi Wirakrama mendapat bagian di wilayah Merden, dan kakak ipar ketiga, Ngabehi Wirayuda mendapat bagian di wilayah Banjarpatambakan (sebelah timur sungai Merawu). Jokoh Kahiman sendiri memilih bertempat di wilayah Kejawar. Oleh karena itu Joko Kahiman selain bergelar Adipati Warga Utama II juga dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat yang berasal dari kata mara papat atau membagi empat.

Pada saat Joko Kahiman melaksanakan babad alas untuk dijadikan sebagai dalem kadipaten, ada sebatang kayu (pohon) yang hanyut di sengai Serayu dan terhenti tidak jauh dari lokasi pelaksanaan babad alas. Kayu tersebut adalah jenis kayu mas yang memiliki ukuran besar. Maka, kayu tersebut kemudian diambil dan dijadikan sebagai soko guru pendopo kadipaten. Berawal dari kata kayu mas yang hanyut di banyu (air), maka lokasi tersebut kemudian disebut Banyumas yang nuggak semi hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh Joko Kahiman bertahan hingga enam periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Joko Kahiman (Adipati Warga Utama II) (1582-1590)
2. R. Ngabei Mertasura I (Ngabehi Janah) (1590-1591)
3. R. Ngabei Mertasura II (Ngabei Kalidethuk) (1591-1620)
4. R. Ngabei Mertayuda I (Ngabei Bawang) (1620-1650)
5. R. Tumenggung Mertayuda II (R.T. Mertonegoro atau R.T. Seda Masjid atau R.T. Yudanegara I) (1650-1705)
6. R. Tumenggung Suradipura (R.T. Toyakusuma atau R.T. Kemong) (1705-1707)

Pengganti R. Tumenggung Suradipura adalah anak R.T. Mertonegoro bergelar R.T. Yudanegara II. Dia tidak bersedia bertempat tinggal di kadipaten lama, dan mendirikan dalem kadipaten baru berlokasi di sebelah timur desa Menganti. Sejak itulah diperkirakan awal mula berdirinya Pendopo Si Panji yang masih lestari hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh R.T. Yudanegara II bertahan selama 12 periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Tumenggung Yudanegara II (R.T. Seda Pendapa) (1707-1743)
2. R. Tumenggung Reksapraja (1742-1749)
3. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) (dadi Patih Sultan Yogyakarta: gelar Danureja I)
4. R. Tumenggung Yudanegara IV (1745-1780)
5. R.T. Tejakusuma, Tumenggung Kemong (1780-1788)
6. R. Tumenggung Yudanegara V (1788-1816)
7. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816-1830)
8. Kanoman : R. Adipati Brotodiningrat (R.T. Martadireja)
9. R.T. Martadireja II (1830-1832) (Kanoman) dan R. Adipati Cokronegara I (R. Adipati Cakrawedana) (1832- 1864) (Kasepuhan)
10. R. Adipati Cokronegara II (1864-1879)
11. Kanjeng Pangeran Arya Martadireja II (1879-1913)
12. KPAA Gandasubrata (1913-1933).

KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata yang menggantikan KPAA Gandasubrata tidak bersedia tinggal di Banyumas. Dia memilih bertempat tinggal di Purwokerto. Maka pada tanggal 7 Januari 1937 dilakukan boyongan (perpindahan) dalem kadipaten, dari Banyumas ke Purwokerto. Simbol kekuasaan yang dipindahkan berupa soko guru pendopo Si Panji yang terdapat di arah barat laut. Pada saat memboyong soko guru pendopo Si Panji tidak dilakukan dengan cara menyeberang kali lanang (sungai Serayu), melainkan memutar ke arah timur melewati mata air sungai Serayu di pegunungan Dieng. Selanjutnya pemerintahan Kabupaten Banyumas bertahan di Purwokerto sampai sekarang. Pada saat penelitian ini berlangsung, pejabat Bupati sudah mengalami pergantian selama 11 periode, yaitu:
1. KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata (Gandasubrata II) (1933-1950)
2. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950-1953)
3. R. Budiman (1953-1957)
4. M. Mirun Prawiradireja (30-01-1957 / 15-12-1957)
5. R. Bayi Nuntoro (15-12-1957 / 1960)
6. R. Subagio (1960-1966)
7. Letkol Inf. Sukarno Agung (1966-1971)
8. Kol. Inf. Poedjadi Jaringbandayuda (1971-1978)
9. Kol. Inf. R.G. Rujito (1978-1988)
10. Kol. Inf. H. Djoko Sudantoko (1988-1998)
11. Kol. Art. HM Aris Setiono, SH, S.IP (1998-2008)

Perpindahan ibukota Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto telah menyisakan kota Banyumas sebagai kota tua. Berbagai macam artefak sejarah masih dapat dijumpai kota Banyumas. Dalem kadipaten Banyumas yang tanpa pendopo, kemudian dibangun pendopo lagi dengan cara meniru bangunan aslinya yang kemudian dikenal dengan sebutan Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Dalem Kadipaten

Menyebut Kabupaten Banyumas tidak bisa lepas dari keberadaan kota Banyumas lama yang secara administratif kini menjadi Kecamatan Banyumas. Meskipun "hanya" sebuah kota kecamatan, nilai sejarah yang dimiliki kecamatan itu telah berumur ratusan tahun (Aufrida Wismi Warastri, 2006). Di wilayah ini banyak dijumpai artefak Kabupaten Banyumas yang menurut Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990 berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah.

Tanggal tanggal 7 Januari 1937 pusat pemerintahan kemudian dipindah ke Purwokerto, pada saat tampuk kekuasaan Kabupaten Banyumas berada di bawah kendali Gandasurata II. Lalu, kota Banyumas berangsur berubah menjadi kota tua yang menyisakan artefak-artefak bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Dalem Kadipaten Banyumas yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas merupakan warisan arsitektur Indies yang merupakan wujud akulturasi yang sangat kental antara kebudayaan Jawa, kebudayaan Barat dan kearifan lokal Banyumas. Dalam konteks kebudayaan nusantara, kebudayaan Indies tercipta dari kebudayaan Barat (dalam hal ini Belanda) dan kebudayaan Timur (dalam hal ini lebih didominasi oleh kebudayaan Jawa) pada sekitar abad ke 19 (Wikipedia, 2007). Perkembangan kebudayaan Indies di wilayah Banyumas memang paling mudah dijumpai pada berbagai bentuk bangunan peninggalan Kolonial Belanda, mulai dari fasilitas umum hingga rumah-rumah tinggal. Ciri utama gaya arsitektur Indies adalah memadukan berbagai elemen Timur dengan Elemen Barat, memiliki luas tanah yang sangat besar.

Dalem Kadipaten Banyumas (Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas) diperkirakan mulai dibangun pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu pada saat Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara III diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I. Wikipedia (2007) mencatat bahwa Masjid Nur Sulaiman Banyumas dibangun tahun 1755 dengan Kyai Nur Daiman sebagai arsiteknya sekaligus sebagai Penghulu Masjid pertama. Masjid tertua di Banyumas ini dibangun setelah pembangunan Pendapa Si Panji.

Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan kebudayaan Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan. Ajaran sinkretisme yang sangat mempengaruhi falsafah Jawa telah berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, empat pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di dalem Kadipaten yang masih dapat dilihat hingga sekarang seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan lantai, ornamen dan ragam desain interiornya.

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas saat ini secara fisik sudah tampak megah, layak dijadikan sebagai bangunan kuno bersejarah yang dirawat dengan baik. Hal ini tentu saja setelah pada tahun-tahun terakhir ini direnovasi dengan pola ‘dikembalikan ke bentuk aslinya’. Ini merupakan modal awal yang sangat berharga dalam usaha melaksanakan revitalisasi sebuah artevak bersejarah peninggalan Kadipaten Banyumas pada masa lalu.

Gambaran umum yang dapat dijumpai saat ini memberikan asumsi-asumsi dasar yang sangat penting tentang Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas, sebagai berikut:
1. Bangunan utama dalam kondisi terawat baik.
2. Masih terdapat bangunan-bangunan pendamping yang belum direnovasi.
3. Belum ada sarana-prasarana maupun aksesories yang menggambarkan bangunan tersebut adalah bekas Kadipaten.
4. Di sekitar bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat bangunan-bangunan baru yang tidak mencerminkan artefak bangunan kuno bersejarah.
5. Bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas masih dimanfaatkan sebagai Kantor Camat Banyumas. Dalam rangka revitalisasi dan pemanfaatan Dalem Kadipaten untuk kepentingan kebudayaan dan pariwisata, keberadaan Kantor Camat kurang menguntungkan.
6. Di salah satu pojok kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat stasiun radio yang siarannya tidak mencerminkan eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.
7. Belum optimalnya pemanfaatan Dalem Kadipaten guna kepentingan pengembangan seni-budaya Banyumas.
8. Masih memungkinkan terdapat artefak-artefak kuno yang tersembunyi di balik kemegahan Dalem Kadipaten yang ada sekarang ini.
9. Terdapat cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Misalnya: tuah Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, Sumur Mas yang sesungguhnya terdapat di salah satu ruang Dalem Kadipaten, adanya ular besar (siluman) yang menjaga lorong antara Sumur Mas di salah satu ruang Dalem Kadipaten dengan Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, soko guru yang terdapat di arah barat laut pendopo ada penunggunya, dan lain-lain.
10. Mulai adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas serta masyarakat terhadap keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Rencana awal pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas diarahkan pada persoalan yang lebih besar, antara lain:
1. Usaha preservasi, konservasi sekaligus ekskavasi bangunan sejarah dan cagar budaya.
2. Usaha mewujudkan culture haretage dari kebudayaan lokal Banyumas.
3. Usaha mendapatkan suatu bentuk visual bangunan Kadipaten Banyumas yang mengacu pada konsep falsafah Jawa.
4. Usaha menjadikan bangunan Kadipaten Banyumas sebagai pusat seni-budaya, pendidikan dan pariwisata.

Guna mewujudkan keempat point di atas, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas perlu dilengkapi sarana-prasarana yang berkaitan dengan keagungan dan kemuliaan seorang Adipati, falsafah yang dianut di Dalem Kadipaten yang mencerminkan legitimasi kekuasaan dan tingkat kepercayaan masyarakat, adanya ciri khas Indies dan kultur lokal Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan dan pola kehidupan tradisional-agraris serta pemanfaatan secara optimal untuk kepentingan perkembangan kebudayaan lokal Banyumas.

Dalam usaha pelestarian Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas ada tiga kemungkinan model yang dapat dilakukan, yaitu: preservasi, konservasi dan ekskavasi. Preservasi adalah model pelestarian dengan cara melestarian bentuk fisik sesuai dengan aslinya, sehingga tidak terjadi perubahan fisik. Model ini berlaku untuk bentuk-bentuk fisik bangunan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, perlakuan terhadap bangunan-bangunan kuno bersejarah harus sangat hati-hati, diusahakan jangan sampai mengubah bentuk aslinya. Konservasi adalah bentuk pelestarian dengan cara mempertahankan nilai-nilai (values) yang relevan dengan perkembangan jaman dengan kemungkinan dilakukannya perubahan fisik. Model ini berlaku untuk sarana, prasarana dan atau aksesories-aksesories bangunan yang bersifat melengkapi keberadaan bangunan fisik. Untuk keperluan konservasi ini, langkah yang dilakukan sedapat mungkin mendekati warna aslinya. Namun demikian apabila tidak terdapat dokumentasi ataupun catatan sejarah, usaha yang dilakukan adalah melalui melakukan komparasi dengan bangunan-bangunan sejenis yang ada di Banyumas maupun di luar Banyumas. Adapun ekskavasi merupakan usaha penggalian artefak-artefak yang terpendam di lokus wilayah (situs) terkait dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Berdasarkan kondisi lingkungan strategis yang ada saat ini, langkah-langkah yang memungkinkan dilaksanakan guna menjaga kontinuitas Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas antara lain:
1. Preservasi, menjaga kelestarian bangunan utama kompleks Pendopo Duplikat Si Panji agar tetap bertahan sesuai dengan aslinya.
2. Konservasi, merenovasi bangunan-bangunan yang pernah ada seperti kandang kuda (istal), gedhong pusaka, tempat pencucian mayat, balai bengong, dan lain-lain.
3. Ekskavasi, melaksanakan penggalian artefak yang terdapat di kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas berdasarkan data-data sejarah yang ada serta keterangan narasumber yang dapat dipercaya. Misalnya: menurut keterangan yang diperoleh selama penelitian, diperoleh data bahwa di sekitar Dalem Kadipaten Banyumas terdapat tujuh sumur. Dalam rangka pelaksanaan ekskavasi, memungkinkan dilaksanakan penggalian terhadap ketujuh sumur ini.
4. Pemanfaatan, yaitu pemanfaatan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas guna pertumbuhan dan permekaran serta eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.

Dalem Kadipaten Banyumas di tengah Persebaran Kebudayaan Rakyat

Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Kebudayaan Banyumas hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton.
Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan (Ahmad Tohari, 2005), dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.
Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka (Sudiono,2006). Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.
Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi seharihari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.
Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, (2) memiliki karakter lugu dan terbuka, (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh, (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas, (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan dan bahasa Sunda, (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a). Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.
Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan (Clifford Geertz,1989) yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli (menyelimuti) dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.

Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan kedu dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-inamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan.

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.

Dalam kehidupan masyarakat Banyumas, istilah penginyongan atau disebut juga pekulaan merupakan pengakuan secara sadar tentang “siapa saya”. Pengakuan demikian bukan dalam situasi kejiwaan yang jumawa dan tinggi hati, melainkan ungkapan sadar untuk mengakui diri sebagai masyarakat lumrah, orang kebanyakan, wong cilik, tidak menempatkan diri dalam posisi lebih unggul dibanding dengan orang atau kelompok lain. Ada nuansa kegetiran, kekalahan dan kepasrahan di sana. Situasi demikian sangat jauh berbeda dengan “keakuan” yang lebih berkonotasi “inilah saya” (Yusmanto,2004). Situasi psikologis yang hanya dialami oleh orang-orang yang tengah dalam keadaan menang, memiliki pengaruh dan kekuasaan atau memiliki posisi lebih unggul dibanding pihak lain. Keadaan seseorang yang mencitrakan kualitas diri yang hebat, yang agung, yang berpengaruh.

Penginyongan bagi orang Banyumas adalah sebuah konsep hidup. Ketika seseorang menyebut dirinya sebagai penginyongan maka sadar atau tak sadar, ia tengah memposisikan diri sebagai masyarakat kebanyakan dan atau kaum awam di tengah hegemoni kelompok lain yang lebih unggul. Namun sesungguhnya pengakuan demikian bukanlah hal paling substansif di dalam konsep ini. Di balik itu semua, konsep penginyongan berisi cara berpikir orang Banyumas di tengah kehidupan sosial budaya yang heterogen dan campur aduk. Ada dua sikap dasar di balik makna kata penginyongan. Pertama, sikap merendah, tidak ngungkul-ungkuli (tidak memandang diri sendiri lebih unggul dibanding orang lain), sikap semadya (tidak lebih unggul, tapi juga tidak rendah). Kedua, sikap jujur, mengakui hal-hal umum yang melekat pada dirinya baik berupa kekurangan maupun kelebihan. Dengan kedua sikap demikian, maka kaum penginyongan dapat lepas dari kebohongan dan kamuflase untuk menutupi kelemahan diri. Mereka lepas dari hidup “seolah-olah”; seolah-olah hebat, seolah-olah menang, seolah-olah kaya, seolah-olah kuasa dan seterusnya.

Makna kata penginyongan yang memiliki nilai rasa kegetiran tersebut bukan tanpa sebab dan musabab. Wilayah Banyumas sejak lama merupakan daerah jajahan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa. Kekuasaan beberapa kerajaan Jawa seperti Majapahit, Demak, Pajang, Mataram hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat telah memberikan pengaruh nyata terhadap keberadaan kebudayaan Banyumas (Ahmad Tohari,2005). Demikian juga kerajaan Pajajaran di tanah Pasundan juga memiliki pengaruh masuknya kebudayaan Sunda di daerah ini.

Hegemoni kekuasaan kerajaan-kerajaan besar itu dapat dipilah menjadi dua macam, yaitu kekuasaan secara teritorial dan secara kultural. Kekuasaan secara teritorial terhadap Banyumas sebenarnya baru dimulai pasca Demak yang ditandai Banyumas menjadi bagian dari wilayah kekuasaan dari kerajaan Pajang. Namun demikian kekuasaan secara kultural sudah terjadi sejak lama, yaitu sejak Majapahit atau bahkan mungkin jauh sebelum itu.

Kekuasan secara kultural inilah yang paling memiliki dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. Kultur kerajaan yang dibentuk berdasarkan konsep adiluhung berpadu dengan spirit kerakyatan yang bersumber dari komunitas masyarakat petani tradisional. Semua itu telah menjadi elemen-elemen penting pembentukan kebudayaan Banyumas yang masih bertahan hingga saat sekarang.

Perpaduan antara kebudayaan kraton dan kebudayaan rakyat telah memunculkan dua komunitas masyarakat. Pertama, komunitas priyayi, terdiri dari anggota masyarakat yang trah kerajaan, kaum ningrat atau sentana dalem (abdi kerajaan) (Clifford Geertz,1989). Dalam kehidupan sosial mereka dihormati dan dianggap tahu banyak hal untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Dalam memecahkan permasalahan, pendapat mereka umumnya akan didengar dan diyakini sebagai kebenaran yang dapat melegitimasi pendapat seseorang. Kedua, komunitas penginyongan, terdiri dari kalangan masyarakat jelata atau orang awam yang tidak memiliki pertalian hubungan dengan kerajaan. Mereka umumnya menganggap diri sendiri sebagai orang-orang yang terbelakang, tidak berpengalaman, berpendidikan rendah dan dalam kondisi kemelaratan akut.

Di daerah Banyumas, kalangan priyayi dan penginyongan seringkali hidup dalam tataran hitam-putih. Kedua komunitas ini berada dalam tingkat perbedaan yang tajam, baik dalam hal status sosial-ekonomi maupun pergaulan sehari-hari. Keadaan seperti ini menempatkan kalangan priyayi sebagai kelompok minoritas sebagai pihak yang menguasai kalangan penginyongan yang merupakan kelompok mayoritas. Di desa-desa umumnya kalangan priyayi berposisi sebagai si kaya yang menguasai pertumbuhan ekonomi dan hasil bumi. Dengan tanah pertanian yang luas, kalangan priyayi menjadi tuan tanah yang mempekerjakan kalangan penginyongan. Dengan uang yang banyak memungkinkan mereka membeli apa saja yang tidak mungkin dilakukan oleh kalangan penginyongan.

Tajamnya perbedaan kelas antara priyayi-penginyongan sebagaimana tercermin pada ungkapan tradisional yang berkembang meluas di daerah Banyumas dan sekitarnya. Ada orang-orang dari golongan priyayi tetapi lebih memilih hidup di tengah-tengah kaum penginyongan. Orang-orang seperti ini sering disebut dengan ungkapan dom semelap nang pager (jarum terselip di pagar). Pada ungkapan ini priyayi tersebut diibaratkan dom (jarum) dimaknai sebagai sesuatu yang keras, tajam dan berharga. Sedangkan masyarakat penginyongan diibaratkan pagar yang umumnya di pedesaan terbuat dari bambu dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga. Sebaliknya seseorang yang berasal dari kalangan penginyongan masuk di kalangan priyayi sering disebut dengan ungkapan nyelag kaya ampas gabar (terselip seperti ampas residu). Dalam hal ini orang tersebut diumpamakan sebagai ampas gabar, yakni ampas yang sudah diambil santannya, yang terselip di antara sesuatu yang besar, yakni kalangan priyayi. Dalam ungkapan yang lebih sinis orang-orang ini disebut kere munggah mbale (kere naik ke balai). Ungkapan ini menggambarkan betapa kalangan penginyongan berada pada tataran tidak pada tempatnya ketika ia masuk ke dalam komunitas priyayi.

Dalam perkembangannya, keberadaan komunitas priyayi dan penginyongan ini memunculkan kelompok ketiga yang merupakan gabungan keduanya. Komunitas ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu priyayi yang merakyat dan orang kaya baru. Pada kelompok ini terjadi lintas batas dalam hal cara berpikir, berbicara, bersikap dan bertindak. Ada orang-orang yang masih keturunan raden, tetapi dalam kehidupan sehari-hari lebih mencerminkan seorang rakyat jelata. Sebaliknya ada pula orang-orang dari kalangan rakyat jelata yang mampu mengubah taraf ekonomi dan gaya hidup sehingga lebih mencerminkan seorang priyayi.

Dalam skala yang lebih luas, pengertian priyayi dan penginyongan bukan sekedar untuk menyebut orang, tapi sebuah konsep yang bertautan pada dua kumparan kutub budaya yang berbeda. Priyayi mewakili kutub budaya kraton, sedangkan penginyongan mewakili kutub budaya kerakyatan. Kebudayaan kraton selalu dimaknai sebagai kebudayaan yang agung, tinggi, mewah, rumit dan sakral. Kebudayaan seperti ini tidak dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Sebaliknya budaya kerakyatan yang hidup di daerah Banyumas adalah kebudayaan yang tumbuh di kalangan masyarakat jelata yang berkehidupan sebagai petani tradisional. Kebudayaan ini memiliki pola yang sederhana, egaliter, bersahaja dan apa adanya.

Adanya pengaruh kekuasaan kraton di wilayah Banyumas telah menjadi penyebab pergulatan dua kutub budaya: kraton versus rakyat. Keduanya menjadi semacam tesis dan antitesis yang memunculkan pergulatan tiada henti-hentinya. Yang satu seolah-olah merasa lebih berhak survive dibanding yang lain. Kondisi demikian sesungguhnya merupakan kewajaran dalam wacana culture counter. Meminjam pengertian Fuad Hasan, dalam culture counter semacam ini masuknya unsur-unsur asing ke dalam kebudayaan lokal memungkinkan terjadinya tiga peristiwa: penentangan, asimilasi atau adaptasi.

Penentangan masuknya sunsur-unsur budaya kraton tampak pada komunitas penginyongan. Komunitas ini pada akhirnya bukan sekedar identitas masyarakat kelas bawah. Melalui komunitas ini pada masyarakat pedesaan tumbuh keberanian untuk menyatakan diri sebagai suatu kelompok yang berada di luar wilayah kelompok priyayi. Mereka tidak merasa malu menjadi orang desa yang identik dengan kemelaratan, kebodohan dan keterbelakangan. Mereka justru merasa bangga dengan sikap yang samadya dan jujur. Hal demikian merupakan sikap kontradiksi dengan kebiasaan kamu priyayi yang cenderung congkak, tinggi hati dan mau menang sendiri serta kebiasaan kolusi, korupsi dan nepotisme dalam upaya mencapai harapan dan keinginan.

Proses asimilasi budaya dalam konteks ini tercermin pada berkembangnya tradisi hidup sebagai priyayi di Banyumas. Masyarakat setempat sangat paham bahwa tradisi tersebut bukanlah bagian dari kebudayaan mereka. Tetapi mereka tetap menerima tradisi tersebut sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan dan peradaban yang harus mereka jalani. Sebagian masyarakat Banyumas justru merasa bangga ketika dirinya disebut sebagai kaum priyayi. Bahkan hingga saat ini masih banyak dijumpai anggota masyarakat Banyumas yang dengan sengaja datang ke kraton Surakarta untuk memohon kekancingan sebagai abdi dalem Kasunanan. Dengan demikian ia memiliki pangkat atau gelar tertentu yang menjadikan strata sosial mereka terangkat; dari kawula atau wong cilik menjadi pangembating praja yang berarti priyayi.

Proses adaptasi budaya dapat dilihat dengan munculnya kelompok yang memadukan unsur-unsur priyayi dan penginyongan menjadi satu-kesatuan konsep hidup. Konsep gabungan itu menjadi semacam sintesis di antara perbedaan konsep priyayi dan penginyongan. Di sini terjadi perpaduan keagungan dan kehalusan budaya kraton dengan keterbukaan dan kejujuran wong cilik. Dengan cara demikian mereka mereka merasa lebih beradab tanpa meninggalkan corak ke-Banyumas-an yang telah lama melekat dalam diri mereka. Namun demikian cara demikian memungkinkan memunculkan deviasi yang justru paradok dengan yang diinginkan; yakni munculnya sikap congkak dan tinggi hati tanpa melihat diri mereka sesungguhnya.
Konsep penginyongan merupakan produk local genius yang menjadi pedoman kehidupan bagi masyarakat awam di Banyumas. Penginyongan sebagai konsep tidak sama tuanya dengan istilah “inyong” dan keberadaan orang Banyumas. Istilah “inyong” (aku) diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa Kawi “ingong” dengan arti yang sama. Adapun keberadaan orang Banyumas di Banyumas sama tuanya dengan keberadaan orang Jawa di Pulau Jawa.

Penginyongan dalam tataran konsep lahir sebagai bentuk counter terhadap keberadaan priyayi di Banyumas. Kehadiran kebudayaan kraton di Banyumas menyisakan tradisi priyayi yang menganggap diri mereka sebagai kelompok masyarakat yang lebih santun, lebih beradab dan lebih unggul dibanding dengan masyarakat kebanyakan. Hal ini mengakibatkan geliat wong cilik untuk mampu eksis di tengah jagad sesrawungan (pergaulan). Mereka seakan ingin mengukuhkan jatidiri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki wewaton atau paugeran (konvensi), adat dan tradisi yang berbeda dengan kaum priyayi.

Konsep penginyongan menjadi spirit yang mendasari setiap gerak langkah seseorang ketika ia menyadari dirinya sebagai orang Banyumas. Mereka menyadari sebagai kaum yang kalah, terjajah, terbelakang dan kurang informasi. Di sisi lain mereka sadar bahwa mereka memiliki warisan nenek-moyang yang harus mereka jadikan sebagai wewaton dalam hidup. Dua hal inilah yang tak terjamah oleh hegemoni kraton. Bahwa kekalahan dan keterjajahan dapat menyulut api semangat untuk berjuang (struggle) serta mampu survive di segala macam situasi dan kondisi.
Pengantar

Tulisan ini merupakan Bab II dari Penelitian tentang Pengembangan Kota Lama Banyumas yang saya lakukan dengan dibiayai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Kearsipan Daerah (Balitbangtelarda) Kabupaten Banyumas pada tahun 2007. Penelitian diarahkan pada usaha preservasi dan konservasi ragam bangunan kuno bersejarah di wilayah Kota Lama Banyumas yang diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan untuk pencitraan Banyumas sebagai kawasan budaya. Usaha pencitraan ini sangat penting dalam rangka pengembangan ragam kebudayaan lokal Banyumas, penciptaan rasa kebanggaan dan sense of belonging dalam diri setiap warga masyarakat Banyumas terhadap ragam budaya milikinya. Di sisi lain, keberhasilan pencitraan ini diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pengembangan bidang kepariwisataan.

Riwayat Kadipaten Banyumas

Salah satu kesulitan mencolok dalam pelaksanaan penelitian ini adalah keberadaan artefak sejarah yang ada di lingkungan obyek material penelitian tidak diikuti teks-teks atau catatan-catatan yang ditulis bersamaan waktu atau mengikuti perjalanan sejarah artefak sejarah tersebut. Beberapa tulisan yang berhasil dikumpulkan umumnya adalah teks-teks sejarah yang ditulis berdasarkan gotek atau ujaring kandha. Oleh karena itu uraian tentang hal-hal yang bersifat diakronis dari keberadaan Kadipaten Banyumas kiranya lebih netral dengan menggunakan istilah ‘riwayat’.

Dari beberapa teks yang terkumpul diperoleh keterangan bahwa keberadaan Kadipaten Banyumas tidak lepas dari pengangkatan Joko Kahiman menjadi Adipati Wirasaba oleh Sultan Pajang, menggantikan Adipati Warga Utama I yang tewas pada peristiwa Sabtu Pahing di Bener. Joko Kahiman adalah anak Ki Mranggi dari Kejawar yang telah menjadi putra menantu Adipati Warga Utama I di Wirasaba. Pasca terjadinya tragedi Sabtu Pahing, putra-putra Wirasaba tidak ada yang bersedia memenuhi panggilang Sultan Jajang karena khawatir akan menemui nasib tragis seperi yang telah dialami ayahandanya. Kesediaan Joko Kahiman berangkat ke Pajang ternyata bukan untuk menerima hukuman, tetapi justru menerima anugrah diangkat menjadi Adipati Wirasaba bergelar Adipati Warga Utama II.

Joko Kahiman tidak kemaruk kekuasaan. Dia kemudian membagi Wirasaba menjadi empat kadipaten. Tiga bagian untuk ketiga kakak iparnya dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Kakak ipar tertua, Ngabehi Warga Wijaya mendapat bagian di wilayah Wirasaba. Kakak ipar kedua, Ngabehi Wirakrama mendapat bagian di wilayah Merden, dan kakak ipar ketiga, Ngabehi Wirayuda mendapat bagian di wilayah Banjarpatambakan (sebelah timur sungai Merawu). Jokoh Kahiman sendiri memilih bertempat di wilayah Kejawar. Oleh karena itu Joko Kahiman selain bergelar Adipati Warga Utama II juga dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat yang berasal dari kata mara papat atau membagi empat.

Pada saat Joko Kahiman melaksanakan babad alas untuk dijadikan sebagai dalem kadipaten, ada sebatang kayu (pohon) yang hanyut di sengai Serayu dan terhenti tidak jauh dari lokasi pelaksanaan babad alas. Kayu tersebut adalah jenis kayu mas yang memiliki ukuran besar. Maka, kayu tersebut kemudian diambil dan dijadikan sebagai soko guru pendopo kadipaten. Berawal dari kata kayu mas yang hanyut di banyu (air), maka lokasi tersebut kemudian disebut Banyumas yang nuggak semi hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh Joko Kahiman bertahan hingga enam periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Joko Kahiman (Adipati Warga Utama II) (1582-1590)
2. R. Ngabei Mertasura I (Ngabehi Janah) (1590-1591)
3. R. Ngabei Mertasura II (Ngabei Kalidethuk) (1591-1620)
4. R. Ngabei Mertayuda I (Ngabei Bawang) (1620-1650)
5. R. Tumenggung Mertayuda II (R.T. Mertonegoro atau R.T. Seda Masjid atau R.T. Yudanegara I) (1650-1705)
6. R. Tumenggung Suradipura (R.T. Toyakusuma atau R.T. Kemong) (1705-1707)

Pengganti R. Tumenggung Suradipura adalah anak R.T. Mertonegoro bergelar R.T. Yudanegara II. Dia tidak bersedia bertempat tinggal di kadipaten lama, dan mendirikan dalem kadipaten baru berlokasi di sebelah timur desa Menganti. Sejak itulah diperkirakan awal mula berdirinya Pendopo Si Panji yang masih lestari hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh R.T. Yudanegara II bertahan selama 12 periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Tumenggung Yudanegara II (R.T. Seda Pendapa) (1707-1743)
2. R. Tumenggung Reksapraja (1742-1749)
3. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) (dadi Patih Sultan Yogyakarta: gelar Danureja I)
4. R. Tumenggung Yudanegara IV (1745-1780)
5. R.T. Tejakusuma, Tumenggung Kemong (1780-1788)
6. R. Tumenggung Yudanegara V (1788-1816)
7. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816-1830)
8. Kanoman : R. Adipati Brotodiningrat (R.T. Martadireja)
9. R.T. Martadireja II (1830-1832) (Kanoman) dan R. Adipati Cokronegara I (R. Adipati Cakrawedana) (1832- 1864) (Kasepuhan)
10. R. Adipati Cokronegara II (1864-1879)
11. Kanjeng Pangeran Arya Martadireja II (1879-1913)
12. KPAA Gandasubrata (1913-1933).

KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata yang menggantikan KPAA Gandasubrata tidak bersedia tinggal di Banyumas. Dia memilih bertempat tinggal di Purwokerto. Maka pada tanggal 7 Januari 1937 dilakukan boyongan (perpindahan) dalem kadipaten, dari Banyumas ke Purwokerto. Simbol kekuasaan yang dipindahkan berupa soko guru pendopo Si Panji yang terdapat di arah barat laut. Pada saat memboyong soko guru pendopo Si Panji tidak dilakukan dengan cara menyeberang kali lanang (sungai Serayu), melainkan memutar ke arah timur melewati mata air sungai Serayu di pegunungan Dieng. Selanjutnya pemerintahan Kabupaten Banyumas bertahan di Purwokerto sampai sekarang. Pada saat penelitian ini berlangsung, pejabat Bupati sudah mengalami pergantian selama 11 periode, yaitu:
1. KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata (Gandasubrata II) (1933-1950)
2. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950-1953)
3. R. Budiman (1953-1957)
4. M. Mirun Prawiradireja (30-01-1957 / 15-12-1957)
5. R. Bayi Nuntoro (15-12-1957 / 1960)
6. R. Subagio (1960-1966)
7. Letkol Inf. Sukarno Agung (1966-1971)
8. Kol. Inf. Poedjadi Jaringbandayuda (1971-1978)
9. Kol. Inf. R.G. Rujito (1978-1988)
10. Kol. Inf. H. Djoko Sudantoko (1988-1998)
11. Kol. Art. HM Aris Setiono, SH, S.IP (1998-2008)

Perpindahan ibukota Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto telah menyisakan kota Banyumas sebagai kota tua. Berbagai macam artefak sejarah masih dapat dijumpai kota Banyumas. Dalem kadipaten Banyumas yang tanpa pendopo, kemudian dibangun pendopo lagi dengan cara meniru bangunan aslinya yang kemudian dikenal dengan sebutan Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Dalem Kadipaten

Menyebut Kabupaten Banyumas tidak bisa lepas dari keberadaan kota Banyumas lama yang secara administratif kini menjadi Kecamatan Banyumas. Meskipun "hanya" sebuah kota kecamatan, nilai sejarah yang dimiliki kecamatan itu telah berumur ratusan tahun (Aufrida Wismi Warastri, 2006). Di wilayah ini banyak dijumpai artefak Kabupaten Banyumas yang menurut Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990 berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah.

Tanggal tanggal 7 Januari 1937 pusat pemerintahan kemudian dipindah ke Purwokerto, pada saat tampuk kekuasaan Kabupaten Banyumas berada di bawah kendali Gandasurata II. Lalu, kota Banyumas berangsur berubah menjadi kota tua yang menyisakan artefak-artefak bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Dalem Kadipaten Banyumas yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas merupakan warisan arsitektur Indies yang merupakan wujud akulturasi yang sangat kental antara kebudayaan Jawa, kebudayaan Barat dan kearifan lokal Banyumas. Dalam konteks kebudayaan nusantara, kebudayaan Indies tercipta dari kebudayaan Barat (dalam hal ini Belanda) dan kebudayaan Timur (dalam hal ini lebih didominasi oleh kebudayaan Jawa) pada sekitar abad ke 19 (Wikipedia, 2007). Perkembangan kebudayaan Indies di wilayah Banyumas memang paling mudah dijumpai pada berbagai bentuk bangunan peninggalan Kolonial Belanda, mulai dari fasilitas umum hingga rumah-rumah tinggal. Ciri utama gaya arsitektur Indies adalah memadukan berbagai elemen Timur dengan Elemen Barat, memiliki luas tanah yang sangat besar.

Dalem Kadipaten Banyumas (Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas) diperkirakan mulai dibangun pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu pada saat Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara III diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I. Wikipedia (2007) mencatat bahwa Masjid Nur Sulaiman Banyumas dibangun tahun 1755 dengan Kyai Nur Daiman sebagai arsiteknya sekaligus sebagai Penghulu Masjid pertama. Masjid tertua di Banyumas ini dibangun setelah pembangunan Pendapa Si Panji.

Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan kebudayaan Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan. Ajaran sinkretisme yang sangat mempengaruhi falsafah Jawa telah berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, empat pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di dalem Kadipaten yang masih dapat dilihat hingga sekarang seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan lantai, ornamen dan ragam desain interiornya.

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas saat ini secara fisik sudah tampak megah, layak dijadikan sebagai bangunan kuno bersejarah yang dirawat dengan baik. Hal ini tentu saja setelah pada tahun-tahun terakhir ini direnovasi dengan pola ‘dikembalikan ke bentuk aslinya’. Ini merupakan modal awal yang sangat berharga dalam usaha melaksanakan revitalisasi sebuah artevak bersejarah peninggalan Kadipaten Banyumas pada masa lalu.

Gambaran umum yang dapat dijumpai saat ini memberikan asumsi-asumsi dasar yang sangat penting tentang Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas, sebagai berikut:
1. Bangunan utama dalam kondisi terawat baik.
2. Masih terdapat bangunan-bangunan pendamping yang belum direnovasi.
3. Belum ada sarana-prasarana maupun aksesories yang menggambarkan bangunan tersebut adalah bekas Kadipaten.
4. Di sekitar bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat bangunan-bangunan baru yang tidak mencerminkan artefak bangunan kuno bersejarah.
5. Bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas masih dimanfaatkan sebagai Kantor Camat Banyumas. Dalam rangka revitalisasi dan pemanfaatan Dalem Kadipaten untuk kepentingan kebudayaan dan pariwisata, keberadaan Kantor Camat kurang menguntungkan.
6. Di salah satu pojok kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat stasiun radio yang siarannya tidak mencerminkan eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.
7. Belum optimalnya pemanfaatan Dalem Kadipaten guna kepentingan pengembangan seni-budaya Banyumas.
8. Masih memungkinkan terdapat artefak-artefak kuno yang tersembunyi di balik kemegahan Dalem Kadipaten yang ada sekarang ini.
9. Terdapat cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Misalnya: tuah Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, Sumur Mas yang sesungguhnya terdapat di salah satu ruang Dalem Kadipaten, adanya ular besar (siluman) yang menjaga lorong antara Sumur Mas di salah satu ruang Dalem Kadipaten dengan Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, soko guru yang terdapat di arah barat laut pendopo ada penunggunya, dan lain-lain.
10. Mulai adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas serta masyarakat terhadap keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Rencana awal pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas diarahkan pada persoalan yang lebih besar, antara lain:
1. Usaha preservasi, konservasi sekaligus ekskavasi bangunan sejarah dan cagar budaya.
2. Usaha mewujudkan culture haretage dari kebudayaan lokal Banyumas.
3. Usaha mendapatkan suatu bentuk visual bangunan Kadipaten Banyumas yang mengacu pada konsep falsafah Jawa.
4. Usaha menjadikan bangunan Kadipaten Banyumas sebagai pusat seni-budaya, pendidikan dan pariwisata.

Guna mewujudkan keempat point di atas, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas perlu dilengkapi sarana-prasarana yang berkaitan dengan keagungan dan kemuliaan seorang Adipati, falsafah yang dianut di Dalem Kadipaten yang mencerminkan legitimasi kekuasaan dan tingkat kepercayaan masyarakat, adanya ciri khas Indies dan kultur lokal Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan dan pola kehidupan tradisional-agraris serta pemanfaatan secara optimal untuk kepentingan perkembangan kebudayaan lokal Banyumas.

Dalam usaha pelestarian Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas ada tiga kemungkinan model yang dapat dilakukan, yaitu: preservasi, konservasi dan ekskavasi. Preservasi adalah model pelestarian dengan cara melestarian bentuk fisik sesuai dengan aslinya, sehingga tidak terjadi perubahan fisik. Model ini berlaku untuk bentuk-bentuk fisik bangunan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, perlakuan terhadap bangunan-bangunan kuno bersejarah harus sangat hati-hati, diusahakan jangan sampai mengubah bentuk aslinya. Konservasi adalah bentuk pelestarian dengan cara mempertahankan nilai-nilai (values) yang relevan dengan perkembangan jaman dengan kemungkinan dilakukannya perubahan fisik. Model ini berlaku untuk sarana, prasarana dan atau aksesories-aksesories bangunan yang bersifat melengkapi keberadaan bangunan fisik. Untuk keperluan konservasi ini, langkah yang dilakukan sedapat mungkin mendekati warna aslinya. Namun demikian apabila tidak terdapat dokumentasi ataupun catatan sejarah, usaha yang dilakukan adalah melalui melakukan komparasi dengan bangunan-bangunan sejenis yang ada di Banyumas maupun di luar Banyumas. Adapun ekskavasi merupakan usaha penggalian artefak-artefak yang terpendam di lokus wilayah (situs) terkait dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Berdasarkan kondisi lingkungan strategis yang ada saat ini, langkah-langkah yang memungkinkan dilaksanakan guna menjaga kontinuitas Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas antara lain:
1. Preservasi, menjaga kelestarian bangunan utama kompleks Pendopo Duplikat Si Panji agar tetap bertahan sesuai dengan aslinya.
2. Konservasi, merenovasi bangunan-bangunan yang pernah ada seperti kandang kuda (istal), gedhong pusaka, tempat pencucian mayat, balai bengong, dan lain-lain.
3. Ekskavasi, melaksanakan penggalian artefak yang terdapat di kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas berdasarkan data-data sejarah yang ada serta keterangan narasumber yang dapat dipercaya. Misalnya: menurut keterangan yang diperoleh selama penelitian, diperoleh data bahwa di sekitar Dalem Kadipaten Banyumas terdapat tujuh sumur. Dalam rangka pelaksanaan ekskavasi, memungkinkan dilaksanakan penggalian terhadap ketujuh sumur ini.
4. Pemanfaatan, yaitu pemanfaatan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas guna pertumbuhan dan permekaran serta eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.

Dalem Kadipaten Banyumas di tengah Persebaran Kebudayaan Rakyat

Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Kebudayaan Banyumas hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton.
Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan (Ahmad Tohari, 2005), dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.
Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka (Sudiono,2006). Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.
Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi seharihari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.
Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, (2) memiliki karakter lugu dan terbuka, (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh, (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas, (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan dan bahasa Sunda, (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a). Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.
Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan (Clifford Geertz,1989) yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli (menyelimuti) dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.

Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan kedu dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-inamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan.

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.

Dalam kehidupan masyarakat Banyumas, istilah penginyongan atau disebut juga pekulaan merupakan pengakuan secara sadar tentang “siapa saya”. Pengakuan demikian bukan dalam situasi kejiwaan yang jumawa dan tinggi hati, melainkan ungkapan sadar untuk mengakui diri sebagai masyarakat lumrah, orang kebanyakan, wong cilik, tidak menempatkan diri dalam posisi lebih unggul dibanding dengan orang atau kelompok lain. Ada nuansa kegetiran, kekalahan dan kepasrahan di sana. Situasi demikian sangat jauh berbeda dengan “keakuan” yang lebih berkonotasi “inilah saya” (Yusmanto,2004). Situasi psikologis yang hanya dialami oleh orang-orang yang tengah dalam keadaan menang, memiliki pengaruh dan kekuasaan atau memiliki posisi lebih unggul dibanding pihak lain. Keadaan seseorang yang mencitrakan kualitas diri yang hebat, yang agung, yang berpengaruh.

Penginyongan bagi orang Banyumas adalah sebuah konsep hidup. Ketika seseorang menyebut dirinya sebagai penginyongan maka sadar atau tak sadar, ia tengah memposisikan diri sebagai masyarakat kebanyakan dan atau kaum awam di tengah hegemoni kelompok lain yang lebih unggul. Namun sesungguhnya pengakuan demikian bukanlah hal paling substansif di dalam konsep ini. Di balik itu semua, konsep penginyongan berisi cara berpikir orang Banyumas di tengah kehidupan sosial budaya yang heterogen dan campur aduk. Ada dua sikap dasar di balik makna kata penginyongan. Pertama, sikap merendah, tidak ngungkul-ungkuli (tidak memandang diri sendiri lebih unggul dibanding orang lain), sikap semadya (tidak lebih unggul, tapi juga tidak rendah). Kedua, sikap jujur, mengakui hal-hal umum yang melekat pada dirinya baik berupa kekurangan maupun kelebihan. Dengan kedua sikap demikian, maka kaum penginyongan dapat lepas dari kebohongan dan kamuflase untuk menutupi kelemahan diri. Mereka lepas dari hidup “seolah-olah”; seolah-olah hebat, seolah-olah menang, seolah-olah kaya, seolah-olah kuasa dan seterusnya.

Makna kata penginyongan yang memiliki nilai rasa kegetiran tersebut bukan tanpa sebab dan musabab. Wilayah Banyumas sejak lama merupakan daerah jajahan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa. Kekuasaan beberapa kerajaan Jawa seperti Majapahit, Demak, Pajang, Mataram hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat telah memberikan pengaruh nyata terhadap keberadaan kebudayaan Banyumas (Ahmad Tohari,2005). Demikian juga kerajaan Pajajaran di tanah Pasundan juga memiliki pengaruh masuknya kebudayaan Sunda di daerah ini.

Hegemoni kekuasaan kerajaan-kerajaan besar itu dapat dipilah menjadi dua macam, yaitu kekuasaan secara teritorial dan secara kultural. Kekuasaan secara teritorial terhadap Banyumas sebenarnya baru dimulai pasca Demak yang ditandai Banyumas menjadi bagian dari wilayah kekuasaan dari kerajaan Pajang. Namun demikian kekuasaan secara kultural sudah terjadi sejak lama, yaitu sejak Majapahit atau bahkan mungkin jauh sebelum itu.

Kekuasan secara kultural inilah yang paling memiliki dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. Kultur kerajaan yang dibentuk berdasarkan konsep adiluhung berpadu dengan spirit kerakyatan yang bersumber dari komunitas masyarakat petani tradisional. Semua itu telah menjadi elemen-elemen penting pembentukan kebudayaan Banyumas yang masih bertahan hingga saat sekarang.

Perpaduan antara kebudayaan kraton dan kebudayaan rakyat telah memunculkan dua komunitas masyarakat. Pertama, komunitas priyayi, terdiri dari anggota masyarakat yang trah kerajaan, kaum ningrat atau sentana dalem (abdi kerajaan) (Clifford Geertz,1989). Dalam kehidupan sosial mereka dihormati dan dianggap tahu banyak hal untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Dalam memecahkan permasalahan, pendapat mereka umumnya akan didengar dan diyakini sebagai kebenaran yang dapat melegitimasi pendapat seseorang. Kedua, komunitas penginyongan, terdiri dari kalangan masyarakat jelata atau orang awam yang tidak memiliki pertalian hubungan dengan kerajaan. Mereka umumnya menganggap diri sendiri sebagai orang-orang yang terbelakang, tidak berpengalaman, berpendidikan rendah dan dalam kondisi kemelaratan akut.

Di daerah Banyumas, kalangan priyayi dan penginyongan seringkali hidup dalam tataran hitam-putih. Kedua komunitas ini berada dalam tingkat perbedaan yang tajam, baik dalam hal status sosial-ekonomi maupun pergaulan sehari-hari. Keadaan seperti ini menempatkan kalangan priyayi sebagai kelompok minoritas sebagai pihak yang menguasai kalangan penginyongan yang merupakan kelompok mayoritas. Di desa-desa umumnya kalangan priyayi berposisi sebagai si kaya yang menguasai pertumbuhan ekonomi dan hasil bumi. Dengan tanah pertanian yang luas, kalangan priyayi menjadi tuan tanah yang mempekerjakan kalangan penginyongan. Dengan uang yang banyak memungkinkan mereka membeli apa saja yang tidak mungkin dilakukan oleh kalangan penginyongan.

Tajamnya perbedaan kelas antara priyayi-penginyongan sebagaimana tercermin pada ungkapan tradisional yang berkembang meluas di daerah Banyumas dan sekitarnya. Ada orang-orang dari golongan priyayi tetapi lebih memilih hidup di tengah-tengah kaum penginyongan. Orang-orang seperti ini sering disebut dengan ungkapan dom semelap nang pager (jarum terselip di pagar). Pada ungkapan ini priyayi tersebut diibaratkan dom (jarum) dimaknai sebagai sesuatu yang keras, tajam dan berharga. Sedangkan masyarakat penginyongan diibaratkan pagar yang umumnya di pedesaan terbuat dari bambu dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga. Sebaliknya seseorang yang berasal dari kalangan penginyongan masuk di kalangan priyayi sering disebut dengan ungkapan nyelag kaya ampas gabar (terselip seperti ampas residu). Dalam hal ini orang tersebut diumpamakan sebagai ampas gabar, yakni ampas yang sudah diambil santannya, yang terselip di antara sesuatu yang besar, yakni kalangan priyayi. Dalam ungkapan yang lebih sinis orang-orang ini disebut kere munggah mbale (kere naik ke balai). Ungkapan ini menggambarkan betapa kalangan penginyongan berada pada tataran tidak pada tempatnya ketika ia masuk ke dalam komunitas priyayi.

Dalam perkembangannya, keberadaan komunitas priyayi dan penginyongan ini memunculkan kelompok ketiga yang merupakan gabungan keduanya. Komunitas ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu priyayi yang merakyat dan orang kaya baru. Pada kelompok ini terjadi lintas batas dalam hal cara berpikir, berbicara, bersikap dan bertindak. Ada orang-orang yang masih keturunan raden, tetapi dalam kehidupan sehari-hari lebih mencerminkan seorang rakyat jelata. Sebaliknya ada pula orang-orang dari kalangan rakyat jelata yang mampu mengubah taraf ekonomi dan gaya hidup sehingga lebih mencerminkan seorang priyayi.

Dalam skala yang lebih luas, pengertian priyayi dan penginyongan bukan sekedar untuk menyebut orang, tapi sebuah konsep yang bertautan pada dua kumparan kutub budaya yang berbeda. Priyayi mewakili kutub budaya kraton, sedangkan penginyongan mewakili kutub budaya kerakyatan. Kebudayaan kraton selalu dimaknai sebagai kebudayaan yang agung, tinggi, mewah, rumit dan sakral. Kebudayaan seperti ini tidak dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Sebaliknya budaya kerakyatan yang hidup di daerah Banyumas adalah kebudayaan yang tumbuh di kalangan masyarakat jelata yang berkehidupan sebagai petani tradisional. Kebudayaan ini memiliki pola yang sederhana, egaliter, bersahaja dan apa adanya.

Adanya pengaruh kekuasaan kraton di wilayah Banyumas telah menjadi penyebab pergulatan dua kutub budaya: kraton versus rakyat. Keduanya menjadi semacam tesis dan antitesis yang memunculkan pergulatan tiada henti-hentinya. Yang satu seolah-olah merasa lebih berhak survive dibanding yang lain. Kondisi demikian sesungguhnya merupakan kewajaran dalam wacana culture counter. Meminjam pengertian Fuad Hasan, dalam culture counter semacam ini masuknya unsur-unsur asing ke dalam kebudayaan lokal memungkinkan terjadinya tiga peristiwa: penentangan, asimilasi atau adaptasi.

Penentangan masuknya sunsur-unsur budaya kraton tampak pada komunitas penginyongan. Komunitas ini pada akhirnya bukan sekedar identitas masyarakat kelas bawah. Melalui komunitas ini pada masyarakat pedesaan tumbuh keberanian untuk menyatakan diri sebagai suatu kelompok yang berada di luar wilayah kelompok priyayi. Mereka tidak merasa malu menjadi orang desa yang identik dengan kemelaratan, kebodohan dan keterbelakangan. Mereka justru merasa bangga dengan sikap yang samadya dan jujur. Hal demikian merupakan sikap kontradiksi dengan kebiasaan kamu priyayi yang cenderung congkak, tinggi hati dan mau menang sendiri serta kebiasaan kolusi, korupsi dan nepotisme dalam upaya mencapai harapan dan keinginan.

Proses asimilasi budaya dalam konteks ini tercermin pada berkembangnya tradisi hidup sebagai priyayi di Banyumas. Masyarakat setempat sangat paham bahwa tradisi tersebut bukanlah bagian dari kebudayaan mereka. Tetapi mereka tetap menerima tradisi tersebut sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan dan peradaban yang harus mereka jalani. Sebagian masyarakat Banyumas justru merasa bangga ketika dirinya disebut sebagai kaum priyayi. Bahkan hingga saat ini masih banyak dijumpai anggota masyarakat Banyumas yang dengan sengaja datang ke kraton Surakarta untuk memohon kekancingan sebagai abdi dalem Kasunanan. Dengan demikian ia memiliki pangkat atau gelar tertentu yang menjadikan strata sosial mereka terangkat; dari kawula atau wong cilik menjadi pangembating praja yang berarti priyayi.

Proses adaptasi budaya dapat dilihat dengan munculnya kelompok yang memadukan unsur-unsur priyayi dan penginyongan menjadi satu-kesatuan konsep hidup. Konsep gabungan itu menjadi semacam sintesis di antara perbedaan konsep priyayi dan penginyongan. Di sini terjadi perpaduan keagungan dan kehalusan budaya kraton dengan keterbukaan dan kejujuran wong cilik. Dengan cara demikian mereka mereka merasa lebih beradab tanpa meninggalkan corak ke-Banyumas-an yang telah lama melekat dalam diri mereka. Namun demikian cara demikian memungkinkan memunculkan deviasi yang justru paradok dengan yang diinginkan; yakni munculnya sikap congkak dan tinggi hati tanpa melihat diri mereka sesungguhnya.
Konsep penginyongan merupakan produk local genius yang menjadi pedoman kehidupan bagi masyarakat awam di Banyumas. Penginyongan sebagai konsep tidak sama tuanya dengan istilah “inyong” dan keberadaan orang Banyumas. Istilah “inyong” (aku) diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa Kawi “ingong” dengan arti yang sama. Adapun keberadaan orang Banyumas di Banyumas sama tuanya dengan keberadaan orang Jawa di Pulau Jawa.

Penginyongan dalam tataran konsep lahir sebagai bentuk counter terhadap keberadaan priyayi di Banyumas. Kehadiran kebudayaan kraton di Banyumas menyisakan tradisi priyayi yang menganggap diri mereka sebagai kelompok masyarakat yang lebih santun, lebih beradab dan lebih unggul dibanding dengan masyarakat kebanyakan. Hal ini mengakibatkan geliat wong cilik untuk mampu eksis di tengah jagad sesrawungan (pergaulan). Mereka seakan ingin mengukuhkan jatidiri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki wewaton atau paugeran (konvensi), adat dan tradisi yang berbeda dengan kaum priyayi.

Konsep penginyongan menjadi spirit yang mendasari setiap gerak langkah seseorang ketika ia menyadari dirinya sebagai orang Banyumas. Mereka menyadari sebagai kaum yang kalah, terjajah, terbelakang dan kurang informasi. Di sisi lain mereka sadar bahwa mereka memiliki warisan nenek-moyang yang harus mereka jadikan sebagai wewaton dalam hidup. Dua hal inilah yang tak terjamah oleh hegemoni kraton. Bahwa kekalahan dan keterjajahan dapat menyulut api semangat untuk berjuang (struggle) serta mampu survive di segala macam situasi dan kondisi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

TIDAK DIIZINKAN MENDOWNLOAD GAMBAR KARIKATUR DIBLOG KAMI, APALAGI UNTUK KEPENTINGAN PROMOSI

Cari Blog Ini

Memuat...