Jumat, 29 Juli 2011

Peranan Etika Jawa dalam Dunia Modern

BAB I
Disusun Oleh :
Nana Udawati             :   08205244087 / I
Vincentia R.                :   08205244095 / I
Eni Narwati                 :   08205244097/ I
Sri Chuma’ngiyah       :   08205244103 / I
Puri Handayani           :   08205244125 / I
Septiana Nurhayati     :   08205244127 / I



PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Zaman ditandai dengan perubahan pola hidup masyarakat secara cepat, salah satunya diakibatkan karena perkembangan teknologi komunikasi. Di Era globalisasi ini informasi, komunikasi dari belahan dunia manapun dapat diakses secara cepat dan mampu tersebar di seluruh dunia, sehingga tidak tertutup kemungkinan bahwa pertukaran informasi memperbesar kemungkinan interaksi antar budaya. Setiap budaya memiliki karakteristik yang berbeda.
Salah satunya kebudayaan jawa, kebudayaan jawa memiliki nilai-nilai yang khas akan tetapi di Era modern sekarang ini nilai-nilai budaya jawa baik jika diterapkan dalam kehidupan modern saat ini, karena dalam adat jawa terkandung nilai-nilai positif yang patut diajarkan kepada generasi penerus. Tapi dalam kenyataannya etika jawa yang terkandung dalam budaya jawa kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat jawa itu sendiri. Sehingga didalam perkembangan seperti sekarang ini banyak orang jawa yang tidak tahu dan mengerti tentang etika jawa. Maka dari itu kami mengangkat masalah dalam makalah dengan judul “Peranan Etika Jawa dalam Dunia Modern”.


B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana peran etika jawa dalam dunia modern?
2.      Bagaimana perkembangan etika jawa dalam dunia modern?
3.      Bagaimana implementasi etika jawa dalam dunia modern?


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Peran Etika Jawa dalam Dunia Modern
Etika secara umum mengandung pengertian, penyelidikan filsafat tentang bidang yang mengatur mengenai kewajiban-kewajiban manusia tentang baik dan buruk, sehingga etika mampu mengantarkan manusia kepada kemampuan bersifat kritis dan rasional. Hal tersebut yang mengantarkan pengertian etika jawa. Etika jawa adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat jawa untuk menjalankan kehidupannya.( Franz Von Magnis, 1979: 13 )
Budaya jawa memiliki ciri khas, dalam kemampuannya untuk menerima gelombang-gelombang kebudayaan dari dalam atau luar tapi masih tetap mempertahankan keasliannya. Budaya jawa tidak melulu berkonsentrasi dengan mengisolasi kebudayaan tersebut, tetapi menemukan jati diri dan pengembangannya melalui pencernaan-pencernaan input dari kebudayaan luar. Hal tersebut cenderung disebabkan keseimbangan olah rasa, olah jiwa dan olah pikir yang menjiwai seluruh rangkaian lelaku orang jawa, serta kearifan dan kerendahan hati seorang jawa terselubung dalam segala keputusan intelektualnya. Sehingga dapat dikatakan orang jawa memiliki pemikiran berusaha menjadi insan bijaksana.
Oleh karenanya segala pola kehidupannya diatur dalam nilai dan norma sebagai tuntutan bagaimana orang jawa menjalani kehidupannya. . Adapun nilai dan etika yang dimaksud antara lain : prinsip rukun, prinsip hormat, tepa selira, nrimo ing pandum, sepi ing pamrih rame ing gawe memayu hayuning bawana, ajining diri soko lathi ajining rogo soko toto, sura dira jaya diningrat lebur dening pangastuti. Di Era Modern ini kebudayaan tersebut cenderung dianggap “ndesani’ bahkan dilupakan begitu saja dengan hadirnya kebudayaan baru yang dinilai lebih praktis dan efisien tanpa ikatan-ikatan tertentu. Jika hal ini dibiarkan, kebudayaan Jawa akan luntur atau bahkan musnah. Oleh karenanya kita sebagai generasi penerus harus melestarikan kebudayaan jawa. Melestarikan bukan berarti meneruskan tradisi yang lama, tetapi tidak juga menghilangkan tradisi. Sebagai contoh keberadaan etika jawa yang masih terkesan kuno dan tradisional, agar tetap mampu eksis sebagai norma dan nilai yang cenderung tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya dengan menyesuaikan nilai dan norma yang lebih relevan di jaman modern.

B.     Perkembangan Etika Jawa dalam Dunia Modern
Di kehidupan sekarang ini yang serba modern, dikhawatirkan orang semakin meninggalkan diri dari kebudayaan Jawa. Mereka bangga dengan budaya barat dan menganggap remeh budaya Jawa. Jika kita memandang ciri situasi Etis dalam dunia modern yang pertama, Pluralisme moral dikarenakan sekarang ini kita hidup dalam era komunikasi, kedua timbulnya banyak masalah etis baru yang disebabkan perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, ketiga kepedulian etis yang tampak diseluruh dunia dengan melewati perbatasan negara. Bila hal ini dibiarkan terus menerus maka sangat mengkhawatirkan, maka siapa yang akan mewarisi dan melestarikan budaya Jawa. Lalu bagaimana juga dengan nilai dan etika Jawa masih relevankah dengan dunia modern saat ini.
Hal ini sangat menarik karena budaya Jawa justru mampu mempertahankan keasliannya ditengah gelombang modernisasi dan globalisasi. Tetapi tidak semua budaya jawa mampu dipertahankan , Budaya Jawa telah kehilangan roh sebagai dampak benturan budaya sekuleristis nan menghedonistis. Fenomena memudarnya budaya Jawa dapat dilihat dari sudut pandang perilaku konsumerisme. Budaya belanja sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan kebudayaan jawa karena memfokuskan pada prestise, jelas tampak berbedaan mencolok, bahwa masyarakat jawa mengenal ungkapan “ Melok nanging aja Nyolok “ yang pada intinya masyarakat jawa memiliki Etika untuk tidak suka pamer terhadap kelebihan yang di milikinya. Indikasi mengapa budaya jawa telah kehilangan roh karena merosotnya nilai filsafat jawa yaitu memayu hayuning bawana , sebuah nilai filsafat memuat nilai persaudaraan, hormat kepada sesama, alam sekitar serta menjaga keseimbangan hidup yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
Melalui proses pelestarian yang masih berlangsung hingga sekarang, masih mempertahankan prinsip rukun dan hormat, prinsip rukun bertujuan untuk mempertahankan keadaan masyarakat dalam keadaan yang harmonis sedangkan prinsip hormat mengajarkan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri harus selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Kesadaran akan kedudukan sosial masing-masing pihak meresapi seluruh kehidupan orang jawa. Sehingga untuk melestarikan kesemuanya membutuhkan kesadaran masyarakat dengan mengolah rasa, raga dan pikiran sebagai salah satu kepedulian kita terhadap kebudayaan jawa.

C.     Implementasi Etika Jawa dalam Dunia Modern
Dalam modernisasi manusia dituntut untuk berfikir kritis dan praktis sehingga untuk melaksanakan kebudayaan seperti kurang diperhatikan karena dianggap merepotkan. Sebagai contoh keberadaan Etika Jawa yang sekarang ini jarang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama generasi muda pada zaman sekarang. Padahal Etika Jawa sangat penting dalam penerapan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,karena etika mengharuskan manusia untuk bisa mengambil sikap rasional terhadap semua norma-norma tradisi maupun norma-norma yang lain. Hal yang dibutuhkan sekarang bukan sekedar teori tetapi implementasi Etika jawa dalam dunia modern, khususnya untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang. Etika jawa terus berkembang seiring kemajuan jaman, nilai-nilai tradisional yang homogen dan tertutup praktis tidak ada lagi, nilai dan norma yang ada didalamnya telah dicerna dengan baik, sehingga tradisi positif tetap diteruskan, tetapi yang negatif atau sudah tidak sesuai dengan realita kebenaran mampu dilengkapi, berikut contoh-contoh implementasi Etika jawa dalam dunia modern :
1.      Implementasi Prinsip Rukun
Suatu konflik bisa pecah jika kepentingan yang saling bertentangan bertabrakan. Bertindak rukun menuntut agar individu bersedia menomorduakan, bahkan melepaskan kepentingan pribadi demi kesepakatan bersama.Misalnya, praktek gotong royong yang sangat diperlukan dalam kehidupan modern ini, dimana perkembangan teknologi membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri dan bersifat individualis, padahal kita harus menyadari bahwa pada hakikatnya ia selalu tergantung pada sesamanya, selalu bersedia membantu sesama, serta bersifat konform artinya orang selalu ingat bahwa ia sebaiknya jangan berusaha menonjol, melebihi yang lain dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1969:35)
Usaha lain untuk menjaga kerukunan adalah dengan musyawarah. Musyawarah merupakan usaha untuk mencapai kebulatan kehendak atau kebulatan pikiran ( keinginan ) dan pendapat partisipan. Kebulatan merupakan jaminan kebenaran dan ketepatan keputusan yang mau di ambil, hal ini disebabkan kebenaran termuat dalam kesatuan dan keselarasan kelompok yang bermusyawarah ( Franz Magnis Suseno, 1984 :51 ). Hal musyawarah ataupun gotong royong tidak semuanya baik diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, dan kadang hal tersebut yang menjadi kambing hitam dari sisi positif musyawarah dan gotong royong, sehingga terus menerus dibawa dalam tradisi yang buruk, misalnya dalam hal ide ataupun kondisi pada saat seseorang harus mempertanggungjawabkan kemampuannya secara individu. Tentu hal ini bukan akan menghasilkan sesuatu yang baik tetapi tentu akan merugikan individu itu sendiri ataupun kelompoknya, karena jaman ini mendorong orang untuk mampu hidup secara individu ( mandiri ) dan kelompok.
2.      Implementasi Prinsip Hormat
Prinsip yang menyatakan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjuk kan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai derajat dan kedudukannya ( Franz Magnis Suseno, 1984:60 ). Tentu saja prinsip-prinsip demikian beranjak ke arah pemudaran, apalagi setelah orang mengerti bahwa setiap orang memiliki harkat, derajat dan martabat yang sama, kemudian timbul pemberontakan untuk apa prinsip hormat itu dilakukan. Dalam masyarakat jawa kesatuan hendaknya diakui oleh oleh semua dengan membawa diri sesuai tuntutan tata krama sosial, sehingga mereka yang berkedudukan lebih tinggi atau tua harus dihormati dan sebaliknya yang lebih tinggi mampu mengayomi. Ada beberapa alasan mengapa orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya harus dihormati, yang pertama karena dalam kehidupan ini merupakan proses belajar yang tiada henti, sehingga muncul secara alami peran manusia dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih tua tentu akan mengajari yang lebih muda dan secara disadari atau tidak mereka menjadi guru yang patut dihargai, bentuk penghargaan itu melalui rasa hormat yang ditunjukan. Kedua suatu saat kita sebagai manusia akan mencapai tataran tertinggi seperti mereka, bisa dibayangkan jika kita tidak pernah menghargai orang yang lebih tua, bagaimana jika itu terjadi pada diri kita sendiri. Oleh karenanya orang jawa mengatur hal tersebut dalam etikanya, dalam bahasa jawa tidak mungkin untuk menyapa atau bercakap-cakap dengan orang lain tanpa menaksir kedudukan sosial jika dibandingkan dengan dirinya, sehingga dalam bahasa jawa terdiri dari dua tingkat utama yang berbeda dalam perkataan dan gramatika,yaitu terdapat bahasa krama untuk mengungkapkan sikap hormat dan bahasa ngoko mengungkapkan sikap keakraban.



BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Etika Jawa itu sendiri sebenarnya pada zaman sekarang sangat diperlukan dan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan Etika jawa memiliki nilai moral yang arif dalam mengatur berbagai kehidupan masyarakat. Namun pada kenyataannya Etika Jawa itu sendiri sudah mulai pudar karena pengaruh budaya barat. Masyarakat sendiri sudah tidak dapat mempertahankan budaya yang dimilikinya, yang disebabkan kurangnnya rasa kecintaan terhadap budaya nya sendiri.
Untuk menumbuhkan kembali rasa cinta tersebut masyarakat harus kembali di ingatkan, terutama generasi muda. Tentu hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Memperkenalkan mereka dengan bentuk etika jawa yang selaras dengan kehidupan sosial, etika yang tidak kaku tetapi memiliki khas tanpa isolasi kultural. Belajar memahami keseimbangan dalam berolah rasa, jiwa dan pikiran pada setiap insan yang telah mampu memposisikan keadalan budaya jawa agar tetap eksis dalam konstelasi budaya global. Oleh karenanya diharapkan Etika Jawa dapat menjadi sebuah Etika yang relevan, sehingga masyarakat dapat menerima nilai-nilai dan norma yang terkandung didalamnya.



DAFTAR PUSTAKA

Dieter Evers, Hans. 1987. Teori Masyarakat: Proses Perubahan Dalam Sistem Dunia Modern. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Magnis Suseno, Franz. 1988. Etika Jawa. Jakarta. PT. Gramedia.
Von Magnis, Franz. 1975. Etika Umum. Yogyakarta. Penerbitan Yayasan Konisius.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

TIDAK DIIZINKAN MENDOWNLOAD GAMBAR KARIKATUR DIBLOG KAMI, APALAGI UNTUK KEPENTINGAN PROMOSI

Cari Blog Ini

Memuat...